Labels

Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Sunday, 30 October 2016

Menelusur Jejak Petinggi Kolonialis Lewat Batu Nisan di Museum Taman Prasasti

Apa kesan orang umumnya saat pertama kali tahu tentang Museum taman prasasti yang terletak di Jalan tanah abang 1, Jakarta pusat? Bisa jadi angker atau aneh, tak salah memang karena koleksi benda-benda yang dimiliki oleh Museum taman prasasti adalah batu nisan dengan jumlah ribuan. Dibilang angker mungkin saja, berhubung museum ini memang berdiri di lahan pemakaman kuno yang dulu namanya Kebon Jahe Kober.

Tak seperti museum lain yang menyimpan benda-benda koleksinya di dalam ruangan. Museum taman prasasti adalah museum terbuka diatas tanah lapang seluas 1,2 hektar. Hanya pepohonan rindang dan semilir angin yang membuat Museum taman prasasti tetap terasa sejuk, hijau namun terasa sunyi dan menakutkan bagi beberapa orang. Tiket masuk yang harus dibayar paling mahal cuma 5 ribu rupiah untuk orang dewasa.

Bagi para pecinta sejarah, tentunya Museum taman prasasti bukanlah tempat yang harus ditakuti. Namun justru seperti potongan waktu yang menghubungkan berbagai macam peristiwa di masa lalu. Mulai dari jaman penjajahan Belanda, Jepang hingga kemerdekaan. Karena di Museum taman prasasti terdapat beragam batu nisan dari berbagai orang-orang kolonialis penting yang pernah singgah di Batavia ataupun daerah lainnya di Indonesia.

Sebelum diresmikan menjadi Museum taman prasasti pada tahun 1977 oleh Gubernur Ali sadikin, lahan ini menjadi tempat pemakaman bagi orang-orang Belanda yang dinamakan Kerkhoflaan. Keberadaan Kerkhoflaan ini juga awalnya tanpa direncanakan. Bermula pada tahun 1795, terdapat wabah misterius yang membuat banyak korban wafat dari pihak Belanda.

Karena banyaknya korban meninggal sementara lahan pemakaman yang berada dalam tembok Batavia (sekitar Kota tua) sudah tak cukup lagi maka dibuatlah lahan pemakaman baru. Sebidang tanah yang berada diluar tembok Batavia namun dekat dengan aliran Kali Krukut ini pun dipilih sebagai tempat pemakaman baru. Adanya Kali krukut dinilai sangat bermanfaat karena dapat digunakan sebagai sarana mengangkut jenasah beserta pengiringnya sebelum dilanjutkan dengan menggunakan kereta kuda.
Pada jaman kolonialisme Belanda, pemakaman yang berada di dalam tembok Batavia berlokasi di dekat Gereja yang sekarang dijadikan sebagai Museum wayang. Namun pada awal abad ke-19, jenasah-jenasah yang berada dalam tembok Batavia mulai dipindahkan ke Kerkhoflaan Kebon jahe kober. Hal ini sesuai dengan perintah Gubernur Daendels yang melarang menguburkan mayat di dekat Gereja ataupun lahan pribadi. Di Museum taman prasasti, dapat ditemukan kode HK (Holandsche Kerk/Gereja Lama Belanda) pada batu nisan yang berarti pindahan dari pemakaman yang berada dekat Gereja Lama di dalam tembok Batavia.

Sampai dengan 2 (dua) tahun sebelum diresmikan menjadi Museum taman prasasti, pemakaman Kebon jahe kober masih aktif digunakan sebagai lahan penguburan. Tetapi dalam selang waktu 2 (dua) tahun sebelum diresmikan, jenasah orang-orang yang ada di pemakaman Kebon jahe kober mulai dipindahkan ke berbagai tempat pemakaman lainnya.
Selain menjadi tempat untuk mempelajari sejarah Batavia dan Indonesia, Museum taman prasasti juga menjadi galeri seni keindahan karya ukiran patung dan nisan dari para seniman batu nisan. Karena pada jaman dahulu, batu nisan dibuat disesuaikan dengan identitas orang yang dimakamkan. Dengan demikian bentuknya bisa bermacam-macam.
Kembali ke judul diatas, Museum taman prasasti yang memiliki lebih dari 1.300 batu nisan menyimpan banyak kijing dari orang-orang penting pada masa Kolonialisme. Beberapa batu nisan yang dapat kita lihat yaitu milik Olivia Marianne Raffles (istri gubernur jendral Thomas Stamford Raffles), Dr. H.F. Roll (pendiri sekolah STOVIA, sekolah kedokteran cikal bakal UI), hingga Soe Hok Gie (aktivis pergerakan mahasiswa tahun 1966).
Diantara batu nisan dari orang-orang Eropa yang ada di Museum taman prasasti terdapat sebuah makam misterius milik Kapitan Jas. Tidak diketahui dengan pasti profil Kapitan Jas tersebut. Dan juga awal mula dari kepercayaan yang timbul bahwa makam milik Kapitan Jas dapat mendatangkan kemakmuran dan kesuburan bagi mereka yang berziarah ke tempat tersebut.
Selain menyimpan benda-benda bersejarah dari kematian tokoh-tokoh penting kaum kolonialis, Museum taman prasasti juga menyimpan 2 (dua) benda penting dari peristiwa wafatnya pendiri bangsa Indonesia, yaitu peti mati yang pernah digunakan untuk membaringkan jenasah Soekarno dan Moh. Hatta. Peti milik kedua Bapak bangsa tersebut disimpan dalam sebuah kotak kaca disertai dengan tulisan singkat saat-saat dimana kedua proklamator tersebut wafat dan dimakamkan.

Mempelajari sejarah terkadang bisa sangat membosankan bila dilakukan di dalam kelas ataupun dengan membaca buku literatur. Namun, Museum taman prasasti mampu menghadirkan cara baru yang unik dan menarik untuk mengetahui sejarah panjang kota Jakarta dan negara Indonesia. Oleh karena itu jangan lupa datang ke Museum taman prasasti yang buka setiap hari Selasa – Minggu mulai dari jam 09.00 – 15.00 ya.

Thursday, 20 October 2016

Tertusuk Panah Asmara Jembatan Cinta di Pulau Tidung

Pulau tidung adalah satu dari sekian banyak pulau di Kepulauan Seribu yang memiliki hamparan pantai pasir putih yang menawan. Jangan terlalu dibandingkan dengan pantai di pulau-pulau lain di luar Jawa. Melihat kota Jakarta yang penuh dengan permasalahan sosial dan lingkungan hidup. Pulau Tidung adalah tempat pelarian sempurna untuk liburan singkat pengusir penat.

Sama dengan pulau-pulau lain yang ada di Kepulauan Seribu. Untuk liburan ke pulau Tidung juga umumnya dijual dalam bentuk paket open trip yang ditawarkan secara online oleh banyak agen perjalanan. Dimana paket liburan selama 2H1M sudah lebih dari cukup untuk menikmati suasana pulau yang terletak di utara Jakarta ini. Lalu apa saja yang didapat dari liburan ke pulau Tidung dan mengapa harus ikut open trip padahal jaraknya tak jauh dari Jakarta?

Meski jaraknya tak jauh dari Jakarta tetapi banyak keuntungan yang didapat jika berlibur ke pulau Tidung dengan ikut open trip. Yang jelas, pengunjung mendapat kepastian tempat penginapan. Karena penginapan di pulau Tidung seringkali penuh oleh pengunjung. Terutama di hari Sabtu – Minggu. Begitu juga dengan jadwal makan. Meski menunya sederhana tetapi sudah dapat jatah makan 3 kali. Jadi tak perlu pusing lagi harus keluar cari makan.
Kemudian pengunjung juga sudah mendapatkan sepeda sebagai alat transportasi selama di pulau Tidung. Sepeda motor hanya digunakan oleh warga lokal saja. Sementara mobil tidak digunakan karena jalanan untuk kendaraan roda empat memang tidak tersedia. Kondisi ini menyebabkan udara di pulau Tidung bersih dari polusi asap kendaraan bermotor. Hal yang pantas disyukuri tentunya.

Untuk harga paket liburan ke pulau Tidung tergantung dari beberapa faktor. Yang pertama jumlah rombongan. Semakin banyak tentunya semakin murah. Kemudian jenis kapal yang digunakan. Untuk yang memakai jasa penyeberangan kapal reguler dari dermaga Kali adem harganya lebih murah. Tetapi konsekuensinya perjalanan lebih lama, bisa mencapai 3 jam. Kapalnya sendiri berangkat sekitar jam 8 atau 9 pagi. Tetapi pengunjung wajib standby setidaknya jam 6 pagi supaya dapat posisi duduk yang enak. Sementara bagi yang menggunakan perahu speedboad dari dermaga Marina Ancol hanya membutuhkan waktu 1 jam saja. Tetapi harga yang harus dibayar lebih mahal tentunya.
Diantara sekian banyak pulau lainnya yang ada di Kepulauan Seribu, pulau Tidung memiliki keunikan tersendiri. Yang pertama pulau Tidung ini terbagi menjadi 2 (dua) pulau, yaitu pulau Tidung besar dan pulau tidung kecil. Yang kedua adalah jembatan yang menghubungkan kedua pulau tersebut yang dinamakan Jembatan cinta. Jembatan cinta ini boleh dibilang sebagai landmarknya pulau Tidung. Tetapi anehnya, Jembatan cinta menghubungkan pulau Tidung besar ke pulau Tidung kecil yang tak berpenghuni.
Kabarnya pulau Tidung kecil hanya digunakan sebagai tempat pemakaman bagi warga pulau Tidung besar. Oleh karena itu tak sedikit yang mengatakan kalau pulau Tidung kecil adalah tempat yang angker. Walaupun waktu kesana aku tidak bisa menemukan lokasi pemakaman. Justru kalau dibilang sebagai tempat budidaya tanaman mangrove malah lebih bisa dipercaya. Karena aku memang bisa menemukannya. Tapi apapun itu jika memang kita datang dengan niat yang baik maka kita pasti mendapatkan keselamatan.

Selama 2 (dua) hari berlibur di pulau Tidung banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Baik hanya untuk melihat-lihat pemandangan ataupun untuk bermain olahraga air.

Di hari pertama tur, setelah makan siang pengunjung akan diajak berkeliling pulau-pulau yang lokasinya berdekatan dengan pulau Tidung. Sembari berkeliling pengunjung diperbolehkan untuk snorkeling. Kapal dan alat snorkeling yang digunakan semuanya sudah termasuk dalam harga paket open trip.
Meski terumbu karang di pulau Tidung kurang berwarna-warni tetapi apa yang ada disana boleh dibilang sudah bagus banget. Apalagi jika dibandingkan dengan warna-warni lampu mobil di Jakarta saat macet. Banyaknya ikan laut yang mendekat juga sangat menghibur. Meski snorkeling di pulau Tidung sangat menyenangkan tetapi pulau ini masih punya banyak keseruan lainnya untuk dapat dinikmati oleh para pengunjung.

Selepas snorkeling, pengunjung akan dibawa menuju area olahraga permainan air yang berada di pulau Tidung besar. Disini pengunjung dapat menikmati berbagai olahraga air yang seru. Seperti Banana boat, Sofa boat, Jet ski dan lain sebagainya. Didalam paket open trip, biasanya agen perjalanan sudah memberikan gratis 1 kali naik Banana boat.
Setelah itu segala bentuk biaya akan ditanggung oleh pengunjung sendiri kalau ingin mengulang naik Banana boat atau mencoba naik wahana olahraga permainan air lainnya. Harga yang ditawarkan untuk satu kali permainan hanya 35 ribu saja. Jika dalam Banana boat penumpangnya ada 5 orang maka satu orang hanya perlu menyumbang 5 ribu saja. Tentu saja ini harga yang sangat murah jika dibandingkan dengan keseruan yang didapat.

Tapi kalau mau yang seru tanpa perlu mengeluarkan biaya. Jembatan cinta punya ”menu sederhana” namun asyik. Jembatan cinta memiliki lengkungan setinggi 6 meter yang digunakan sebagai jalur kapal lewat. Saat kapal tak melintas, lengkungan ini boleh digunakan untuk wahana loncat. Saat melakukan loncatan meski jatuhnya di air tapi tanpa keterampilan yang cukup bisa membuat tubuh serasa jatuh diatas batu. Jadi, dua jempol untuk yang berani loncat.
Serunya snorkeling dan mencoba berbagai olahraga air yang di pulau Tidung membuat waktu berlalu tanpa terasa. Hingga akhirnya sang Surya perlahan mulai menghilang diujung batas laut. Sinarnya yang keemasan menghangatkan suasana sore di Jembatan cinta. Gelak tawa anak-anak, senda gurau bersama teman dan romantisme pasangan yang sedang kasmaran bercampur mewarnai waktu perpisahan dengan sang Mentari. Segala persoalan pribadi pun sejenak seperti lenyap.

Saat malam tiba maka waktunya kembali ke penginapan. Suasana malam yang sunyi di Pulau Tidung benar-benar memberikan waktu istirahat yang berkualitas. Semilir tiupan angin laut dan suara deburan ombak yang sayup-sayup terdengar bagai obat tidur yang meninabobokan.

Hingga tak terasa matahari pagi pun mulai menyapa di hari kedua di pulau Tidung. Kapal yang akan kembali ke Jakarta akan mulai berlayar pada jam 11 siang. Untuk yang kemarin masih belum puas dengan permainan olahraga air ataupun belum rela untuk kembali ke rutinitas harian.

Di sisa hari ini masih ada waktu beberapa jam lagi untuk menikmati keseruan tersebut. Tapi sisakan sedikit tenaga untuk besok hari. Saat kita mulai beraktivitas kembali menghadapi kemacetan dan rutinitas kerja di kota Jakarta.