Labels

Showing posts with label Sejarah dan Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sejarah dan Budaya. Show all posts

Saturday, 17 December 2016

Candi Gunung Kawi, Peristirahatan Terakhir Sang Penguasa Bali

Nama tempat ini memang mengingatkan pada sebuah gunung yang berada di provinsi Jawa timur. Tapi bukan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini. Melainkan sebuah candi yang terletak di pulau Dewata, Bali. Yang memang kebetulan punya nama sama.

Umumnya sebuah candi dibentuk dari tumpukan batu. Namun berbeda dengan candi Gunung kawi yang berupa sebuah pahatan di tebing batu. Yang mana sesuai dengan namanya, Gunung yang berarti gunung dan Kawi berarti pahatan.

Candi gunung Kawi terletak di kabupaten Gianyar. Jaraknya dari Denpasar terpisah sejauh 40 km yang dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam perjalanan. Lokasinya berada di sebuah perbukitan yang dibelah oleh sungai Pakerisan dan membagi wilayah candi Gunung kawi menjadi 3 bagian.
Bagian pertama, di sebelah timur sungai Pakerisan terdapat 5 buah candi yang didedikasikan untuk raja Udayana. Sedangkan bagian kedua di sebelah barat, terdapat 4 buah candi yang dipersembahkan untuk selir dari raja Udayana yang berjumlah 4 orang. Di bagian ketiga, terdapat 1 buah candi yang dibangun untuk salah seorang pejabat tinggi kerajaan setingkat perdana menteri atau penasehat raja.

Sejarah candi Gunung kawi memang tidak bisa dilepaskan dari raja Udayana, sang penguasa pulau Bali. Bahkan tujuan dibangunnya candi gunung Kawi oleh anak kedua raja Udayana yaitu Marakata adalah sebagai tempat pemujaan terhadap ayahnya yang konon disemayamkan di sungai Pakerisan.

Salah satu bukti yang menerangkan candi Gunung kawi sebagai tempat pemujaan terhadap raja Udayana adalah tulisan beraksara Kadiri yang berbunyi “Haji Lumah in Jalu” yang terdapat pada pintu gerbang candi. Makna dari tulisan tersebut berarti Sang Raja dimakamkan di Jalu. Kata Jalu merujuk pada pengertian taji (senjata pada kaki ayam) yang dapat diasosiasikan dengan keris (sungai Pakerisan).
Untuk menuju dan keluar dari lokasi pusat candi Gunung kawi diperlukan sedikit kekuatan fisik karena harus turun dan kemudian naik 315 anak tangga. Tetapi untungnya, suasana alam di candi Gunung kawi sangat hijau dan sejuk sehingga membuat nafas sedikit lega meski kaki sedikit lemas.

Sunday, 13 November 2016

Sehari di Siem Reap? Ini 7 Candi yang Bisa Dikunjungi

Kota Siem Reap yang terletak di negara Kamboja terkenal akan candi-candi peninggalan kerajaan Khmer. Jumlahnya diperkirakan mencapai ribuan yang terkumpul dalam wilayah seluas kurang lebih 400 km2 yang dinamakan komplek Angkor (Angkor Archaelogical Park). Angkor berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Nagara yang berarti Kota. Oleh UNESCO, Angkor dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Dan dianggap sebagai salah satu situs arkeologikal penting di Asia Tenggara.

Saking banyaknya candi yang berada dalam komplek Angkor, diperlukan waktu setidaknya 3 hari untuk wisatawan umum yang hanya tertarik untuk sekedar melihat semua candi yang ada. Sedangkan bagi wisatawan yang memiliki minat dalam bidang sejarah dan arkeologi, diperlukan waktu 7 hari untuk bisa menikmati peninggalan kerajaan Khmer yang terpahat dalam setiap detail batu candi.

Lalu bagaimana jika kita hanya punya waktu 1 hari di Siem Reap? Ini dia 5 candi yang bisa kita nikmati dalam waktu satu hari saja. Tapi sebelumnya, pengunjung harus membeli tiket paket satu hari seharga USD20. Untuk yang paket 3 hari (USD 40) dan 7 hari (USD60) juga tersedia. Dan syaratnya harus digunakan dalam hari yang berurutan sejak tiket dibeli.

Tiket reguler yang telah dibeli tersebut berlaku untuk masuk ke semua candi yang ada di Siem reap kecuali Phnom Kulen, Koh Ker dan Beng Melea yang menetapkan tiket dengan tarif khusus. Saat membeli tiket, petugas di loket akan mengambil foto masing-masing pengunjung untuk dicetak di tiket. Jadi bila membeli tiket untuk rombongan, tiap-tiap pengunjung harus ikut antri di loket. Yang terakhir, simpan tiket baik-baik jangan sampai terlipat atau sobek karena nantinya jadi tidak berlaku. Mau ngga mau, akhirnya harus beli tiket yang baru lagi.

1. Angkor Wat
Inilah candi yang menjadi ikon dari komplek Angkor (Angkor Thom) sekaligus menjadi kebanggaan negara Kamboja seperti tergambar dalam bendera nasionalnya. Candi yang arsitekturnya bergaya klasik Khmer ini menjadi satu-satunya peninggalan kerajaan Khmer yang paling terpelihara dengan baik.

Angkor Wat menjadi lokasi favorit bagi para pengunjung untuk memulai liburan di komplek Angkor dikarenakan pemandangan matahari terbitnya yang sangat spektakuler. Perpaduan sinar matahari pagi yang menimbulkan efek siluet dan danau kecil di depan Angkor wat yang menciptakan refleksi memberikan nuansa magis yang tak boleh dilewatkan.

2. South Gate
Komplek Angkor (Angkor Thom/The Great City) dikelilingi oleh tembok tinggi berbentuk persegi yang dulu digunakan sebagai benteng perlindungan kerajaan Khmer. Sebagai akses utama masuk dan keluar, hanya dibuat 4 pintu gerbang saja yang menghadap ke 4 arah mata angin. Sedangkan 1 pintu gerbang tambahan yang dinamakan “Gate of Victory” dibuat khusus untuk masuk dan keluar ke istana kerajaan.

Dari 4 gerbang yang dibangun sebagai akses keluar masuk komplek Angkor, hanya pintu gerbang Selatan saja yang kondisinya paling utuh. Gerbang selatan ini akan dilewati semua pengunjung yang akan menuju ke Bayon dengan titik berangkat berawal dari Angkor wat.

3. Ta Phrom
Selain dikenal karena kemunculannya di film Tomb Raider pertama yang dibintangi oleh Angeline Jolie, Ta Phrom disukai oleh para pengunjung dikarenakan nuansa mistis yang menyelimutinya. Kesan tersebut terbentuk oleh akar pohon-pohon raksasa yang mencengkeram dinding-dinding Ta Phrom.

Meski akar yang membelit terkesan merusak candi peninggalan raja Jayavarman VII ini, tetapi justru muncul anekdot bahwa sebenarnya tercipta simbiosis mutualisme antara keduanya, “Pohon-pohon tersebut tak akan berdiri dengan tegak sampai saat ini tanpa bantuan dinding-dinding Ta Phrom, demikian pula dinding-dinding Ta Phrom yang usianya sudah ratusan tahun tak akan bisa berdiri tegak secara alami tanpa bantuan akar pohon yang kuat mencengkeram”.

4. Bayon
Kalau Angkor wat dikatakan sebagai peninggalan kerajaan Khmer termegah maka Bayon boleh dibilang sebagai yang paling cantik dan artistik. Ini tak lepas dari penelitian yang menyatakan Bayon sebagai candi yang memiliki paling banyak detail relief. Selain itu sebanyak 216 wajah raksasa yang disusun dari tumpukan bebatuan membuatnya terlihat berbeda dibandingkan candi-candi lain yang ada di komplek Angkor.

Dimana semua wajah tersebut merujuk pada profil raja Jayavarman VII. Sementara teori lainnya mengaitkannya dengan wajah Dewi simbol kasih sayang yaitu Avalokitesvara.

5. Baphuon
Lokasinya yang hanya selemparan batu dari Bayon membuatnya sayang jika tak sekaligus disinggahi. Yang unik dari Baphuon adalah pintu masuknya yang membentang sepanjang 200 meter dan memiliki ketinggian kurang lebih 1 meter dari permukaan tanah. Bagian inti bangunan dari Baphuon merupakan bangunan berundak 3 tingkat.

6.Terrace of Elephants
Seperti namanya, Terrace of Elephants memang sebuah teras. Memiliki panjang 350 meter, dulunya digunakan sebagai tempat Raja Jayavarman VIII untuk melihat pasukannya yang kembali dengan membawa kemenangan dan juga tempat sang Raja untuk melihat berbagai pesta perayaan lainnya.

Gajah sendiri memiliki peranan yang penting pada masa kerajaan Khmer bertahta sehingga binatang berukuran besar ini ikut terukir dalam relief dinding Terrace of Elephants.

7. Phnom Bakheng
Mengakhiri liburan sehari di komplek Angkor? Phnom Bakheng jawabannya. Candi yang terletak di puncak bukit ini jadi favorit para pengunjung untuk mengucapkan “sampai jumpa” kepada sang mentari yang telah menemani sepanjang hari.

Bentuk Phnom Bakheng mirip seperti piramida berundak dengan bagian atas datar seperti terpancung. Di tempat itulah para pengunjung yang sudah rela mengantri demi melihat matahari terbenam akan menanti sang fajar menghilang di kejauhan.

_________________________________________


Jika sudah tahu tempat mana saja yang akan dituju, pertanyaan berikutnya tentu adalah transportasi apa yang bisa digunakan untuk menuju kesana? Cuaca Kamboja yang panas kering memang menjadi tantangan bagi yang tidak suka udara panas. Sehingga menyewa mobil untuk digunakan selama sehari adalah pilihan pertama karena nyaman ber-ac. Tapi konsekuensinya tentu saja harganya lebih mahal.
Alternatif kedua yang lebih murah jatuh kepada Tuk-tuk. Meski tak ber-ac, tetapi cukup sejuk akibat hembusan angin alami. Konsekuensi yang harus dihadapi tentunya adalah debu. Dan bagi yang tak terbiasa naik kendaraan terbuka, masuk angin juga jadi resiko yang harus diperhitungkan. Tuk-tuk di Kamboja berbeda dengan yang ada di Thailand. Tuk-tuk di Kamboja berupa gerobak yang ditarik oleh sepeda motor. Sedangkan Tuk-tuk di Thailand lebih menyerupai Bajaj di Jakarta.

Kedua transportasi tersebut sangat mudah dijumpai di daerah Pub street yang menjadi lokasi menginap favorit para turis selama berlibur di Siem reap. Karena tempatnya yang nyaman, banyak hotel dan tempat makan. Jarak dari Pub street menuju ke Angkor Thom juga tak terlalu jauh. Hanya memakan waktu sekitar 15 – 20 menit saja.
Alternatif transportasi ketiga yang hanya bisa digunakan didalam Angkor Thom yaitu sepeda. Menjelajahi Angkor thom dengan sepeda memang menciptakan pengalaman berpetualang yang unik. Tapi sepertinya hanya bisa dilakukan bagi mereka yang memang liburan panjang di Siem reap. Karena membutuhkan banyak tenaga dan waktu.

Monday, 24 October 2016

Museum Purbakala Sangiran, Etalase Kehidupan Pra Sejarah Terlengkap di Dunia

Museum Purbakala Sangiran
Dalam lirik lagu Koes Plus dikatakan “Tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Ternyata apa yang ditulis dalam lirik tersebut bukanlah isapan jempol semata. Bahkan semenjak jaman purbakala, tanah Indonesia memang sudah dikenal karena kesuburan tanah dan kekayaan lautnya. Hal tersebut dapat dibuktikan manakala kita berkunjung ke Museum Purbakala Sangiran yang ada di Sragen, Jawa tengah.

Memang cara hidup manusia purba sifatnya nomaden. Tetapi pola hidup nomaden manusia purba merunut pada tempat-tempat yang banyak memiliki sumber makanan dan air (sungai). Pola hidup nomaden tersebut terbentuk dikarenakan manusia purba menggantungkan kebutuhan hidupnya dari hasil buruan (hewan, dll).

Dimana hewan hasil buruan para manusia purba tersebut bermukim di daerah yang juga subur tanahnya dan banyak sumber-sumber airnya. Makanya tak salah kan jika Indonesia dibilang sebagai negara yang kaya sumber daya alamnya.

Nama museum yang letaknya kurang lebih 15 km dari pusat kota Solo ini diambil dari nama dusun dimana museum purbakala ini berada yaitu Sangiran. Di Sangiran inilah fosil nenek moyang manusia pertama, yaitu Pithecantropus Erectus ditemukan. Semenjak saat itu Sangiran menjadi situs terpenting dan terlengkap dalam penelitian kehidupan pra sejarah di dunia.
Fosil Homo Erectus
Dikatakan penting dan terlengkap karena sampai saat ini di Sangiran setidaknya telah ditemukan lebih dari 100 fosil Homo erectus yang merupakan manusia penjelajah bumi pertama di dunia yang berasal dari Afrika. Jumlah tersebut telah mewakili lebih dari setengah populasi Homo erectus yang menyebar di berbagai benua.

Sejak pertama kali Pithecantropus erectus ditemukan di Sangiran, hingga saat ini telah banyak ditemukan berbagai macam fosil purbakala. Sangiran pun dianggap menyumbang banyak ilmu pengetahuan di bidang kepurbakalaan. Anggapan tersebut lalu diresmikan pada tahun 1996 oleh UNESCO berupa pengakuan Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) kepada Sangiran.

Maka jika dunia sudah memberikan pengakuan resmi sangat pantaslah juga bagi kita sebagai warga negara Indonesia untuk datang ke Sangiran dan menggali banyak pengetahuan melalui wisata edukasi ke Museum Purbakala Sangiran. Apalagi tiket masuknya pun sangat murah, hanya 5 ribu rupiah saja. Museum Purbakala Sangiran buka dari hari Selasa sampai dengan Minggu mulai pukul 10.00 – 16.00 WIB.

Menarik tentunya untuk mengikuti sejarah manusia di Museum Purbakala Sangiran. Tetapi tak mudah bagi wisatawan awam untuk bisa mengerti semua data dan fakta yang tersedia di tempat ini. Oleh karena itu ruang pamer di Museum Purbakala Sangiran dibagi menjadi beberapa cluster yang berurutan agar mudah dipahami.
Koleksi benda-benda yang dipamerkan pun bentuknya beraneka ragam. Mulai dari fosil manusia pra sejarah hingga binatang yang hidup juga pada masa itu. Semuanya disajikan dalam bentuk fosil-fosil yang ditemukan ataupun dalam bentuk diorama dengan skala ukuran yang sama dengan aslinya. Sejarah terbentuknya bumi sebagai tempat tinggal beragam mahluk hidup juga disajikan dalam ruang audio visual. Termasuk sejarah tentang Sangiran yang dulu ternyata adalah laut dangkal yang berada di kaki gunung Lawu.
Tak hanya fosil manusia dan hewan pra sejarah saja yang ditampilkan. Alat-alat berburu dan alat-alat untuk menunjang kehidupan sehari-hari juga turut dipamerkan. Contohnya seperti kapak genggam dan kapak perimbas.

Meski Sangiran dikenal sebagai situs pra sejarah terlengkap di dunia tapi tanpa kehadiran para peneliti tentunya tempat ini tidak akan pernah diketahui. Oleh karena itu turut dihadirkan pula para peneliti yang berperan besar dalam penemuan-penemuan fosil di situs Sangiran dan sekitarnya seperti von Koenigswald dan Eugene Dubois beserta catatan hariannya saat melakukan proses penggalian.
Seluruh koleksi fosil yang berada di Museum Purbakala Sangiran totalnya mencapai lebih dari 13 ribu jenis. Sebagian besar berasal dari periode masa 1 hingga 2 juta tahun yang lalu. Meski usia benda-benda koleksinya tak lagi muda tetapi ada beberapa fosil yang boleh disentuh oleh pengunjung. Keistimewaan ini tentunya mengobati rasa penasaran pengunjung tentang benda-benda pra sejarah.
Tetapi jika sewaktu mau pulang masih tersisa rasa penasaran maka pengunjung boleh datang ke toko-toko suvenir yang ada di sekitar Museum Purbakala Sangiran. Di toko-toko suvenir tersebut banyak tersedia berbagai macam tulang dan fosil yang boleh diperjualbelikan. Soal keaslian fosil yang dijual tentunya menjadi tanda tanya. Apalagi untuk orang awam yang tidak paham arkeologi. Tapi jika harganya masih sesuai bujet tentunya tak jadi masalah jika hanya untuk pajangan di rumah.

Wednesday, 28 September 2016

Sehari di Tana Toraja, Kemana Saja?

Kota yang artinya Negeri di atas awan ini punya tradisi dan tempat pemakaman yang unik. Tapi apa memang cuma itu saja yang dimiliki oleh Tana Toraja? Lalu apa yang bisa kita lihat kalau cuma punya waktu sehari di Tana Toraja. Ini dia itinerary sehari di kota yang jaraknya 8-9 jam perjalanan darat dari kota Makassar.

1. Lemo
Lemo dalam bahasa Tana toraja berarti Jeruk. Di salah satu tebing yang menjadi tempat pemakaman di Lemo memang ada yang bentuknya bulat mirip buah Jeruk. Sementara lubang-lubang makam pada tebing goa terlihat seperti pori-pori buah yang kaya kandungan vitamin C tersebut.

2. Londa
Di komplek pemakaman Londa hidup ceritera tentang sepasang kekasih yang kisah asmaranya mirip dengan karya sastra William Shakespeare, yaitu Romeo dan Juliet. Selain itu, goa pemakaman di Londa ini terbilang sangat besar. Pengunjung dapat menyewa Lentera dari masyarakat setempat seharga 35 ribu untuk menjelajahi isi goa yang gelap. Dan berposelah di dalam goa layaknya Indiana Jones.

3. Suaya
Suaya adalah komplek pemakaman bagi keluarga bangsawan Sangalla’. Dengan dikelilingi oleh persawahan, komplek pemakaman Suaya berada di tebing yang tidak terlalu besar dengan liang makam yang tidak terlalu banyak. Beberapa Tau-tau atau patung personifikasi dari orang yang dimakamkan ditempatkan di tebing dengan posisi tangan yang menengadah yang berarti menyambut siapapun yang berkunjung ke Suaya.

4. Tilanga
Jangan lupa bawa celana dan baju ganti saat ke Tana toraja. Bukan karena panasnya matahari yang bikin badan keringetan. Tapi karena kita bisa mandi di kolam alami Tilanga yang airnya sangat jernih. Bukan cuma bisa untuk sekedar mandi, tapi juga bisa untuk mencari peruntungan. Karena di Tilanga hidup belut bertelinga yang dikenal orang lokal dengan nama Masapi. Konon bagi yang melihat penampakannya akan mendapat anugerah rejeki karena hewan air ini jarang menampakan diri.

5. Makam Bayi Kambira
Siapa bilang orang Tana toraja hanya dimakamkan di dalam goa saja? Di perkampungan ini jenasah bayi yang belum tumbuh giginya dimakamkan didalam batang pohon Taraa’. Getah pohon Taraa’ yang berwarna putih dianggap sebagai representasi Air Susu Ibu. Sehingga diharapkan sang bayi dapat terus tumbuh besar walau di alam yang berbeda.

6. Pasar Tedong (Kerbau) Bolu
Kerbau memegang peranan penting dalam acara Rambu Solo’, prosesi pemakaman tradisi Tana toraja. Dimana saat acara ini diadakan, keluarga yang menyelenggarakan prosesi pemakaman akan memotong kerbau sebagai hewan kurban. Pasar Bolu adalah pasar kerbau terbesar di Tana toraja. Setiap 6 (enam) hari sekali adalah hari penjualan besar-besaran di pasar Bolu. Orang dari semua penjuru Toraja datang untuk menjual dan membeli Tedong (kerbau).

7. Ke’te Kesu
Perkampungan tradisional yang satu ini adalah tujuan nomor 1 untuk menghabiskan waktu libur di Tana toraja. Karena dari sekian banyak perkampungan tradisional lainnya, boleh dikatakan bahwa Ke’te kesu adalah yang terlengkap. Dimana rumah-rumah adat Tana toraja yaitu Tongkonan saling berdiri berjajar dan berhadap-hadapan. Dan komplek pemakamannya pun sangat besar dengan banyak tengkorak yang bertebaran.

8. Pong Buri
Perut lapar dalam liburan wajib diobati dengan makanan tradisional yang enak. Ini dia warung yang namanya sudah dikenal lebih dari 20 tahun di kalangan masyarakat lokal yang menyajikan menu lengkap khas Tana toraja yang jarang ditemui di warung lainnya. Diantaranya adalah Pa’piong dan Pammarasan. Sebagai penyegar tenggorokan, ada arak atau Ballo, sebutan dari masyarakat setempat.

Untuk menuju Tana toraja dari Makassar bisa menggunakan bus ataupun menyewa mobil. Tak perlu ragu naik bus dari Makassar ke Tana toraja. Hilangkan bayangan kondisi bus yang kotor, berkarat dan kursi yang bau dan kumal. Bus-bus yang digunakan merupakan keluaran terbaru dari merk-merk Mercedes benz dan Scania.
Salah satu Perusahaan otobus yang cukup direkomendasikan adalah Litha & co. Beberapa lainnya yang tak kalah bagus juga ada Primadona, Manggala Trans, Metro permai, Bintang prima dan Bintang timur. Tiket yang dijual mulai dari 140 ribu dengan jadwal keberangkatan 2 kali sehari. Pagi dan malam hari. Tetapi sangat disarankan ambil perjalanan pagi. Karena jalur perjalanan Makassar – Tana toraja banyak melewati tepian pantai dengan pemandangan yang indah.

Di Tana toraja masih banyak lagi objek wisata lainnya yang tak kalah menarik. Sangat disarankan untuk menyewa mobil dan pemandu wisata dalam menjelajahi Tana toraja. Sehingga bisa mengetahui juga tentang sejarah dan budaya masyarakat setempat. Biaya yang dibutuhkan untuk sewa mobil (Innova) termasuk didalamnya pemandu, supir dan bensin sebesar 800 ribu (perjalanan tahun 2015). Salamakki Battu ri Tana toraja!

Wednesday, 14 September 2016

Pancaran Cinta Pagoda Avalokitesvara

Karena keindahan arsitektur, sejarah dan nilai-nilai filosofi yang dimiliki oleh suatu tempat ibadah dapat menjadikan tempat ini sebagai objek wisata yang wajib dikunjungi saat liburan. Tak terkecuali Pagoda Avalokitesvara yang terletak 45 menit dari pusat kota Semarang di Jalan Pudakpayung Watugong atau Jalan Raya Solo-Jogja.

Pagoda Avalokitesvara berada dalam Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong. Keberadaannya seperti melengkapi Vihara Dhammasala yang sudah dibangun terlebih dahulu dan juga pohon Bodhi yang ditanam bersamaan dengan dibangunnya Vihara Dhammasala. Pohon Bodhi dalam kepercayaan agama Budha dianggap sebagai pohon suci karena dipercaya menjadi tempat Sang Budha Gautama bersemedi dan mendapat pencerahan. Oleh karena itu dibawah pohon Bodhi yang ada di Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong juga diletakan patung Budha yang sedang duduk bersemedi.
Dengan tinggi bangunan mencapai 45 meter, Pagoda Avalokitesvara ini terdiri dari 7 (tujuh) tingkat. Namun pengunjung tidak dapat naik hingga lantai atas dikarenakan memang tidak disediakan tangga. Setelah diresmikan tahun2006 lalu Pagoda Avalokitesvara langsung masuk rekor MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Tinggi bangunan yang terdiri dari 7 (tujuh) tingkat ini merupakan perlambang bahwa seorang pertapa akan mencapai kesucian dalam tingkat ketujuh. Sehingga pada tingkat ketujuh diletakan patung Amitaba yang merupakan guru besar para Dewa dan manusia.

Sementara itu pada tingkat kedua hingga enam diletakan patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) yang menghadap ke arah 4 (empat) penjuru mata angin. Tujuannya agar Dewi Kwan Im dapat memancarkan welas asih (cinta dan kasih sayang) ke segala penjuru mata angin. Didalam Pagoda Avalokitesvara juga terdapat patung Dewi Kwan Im setinggi 5,1 meter. Adapun didirikannya Pagoda Avalokitesvara ini memang sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Kwan Im. Sehingga tak heran jika dipenuhi oleh patung Dewi Kwan Im.
Berada di Pagoda Avalokitesvara membuat pikiran seperti sedang berada di negeri Tiongkok. Bentuk dan cat bangunannya yang didominasi warna merah dan kuning sangat identik dengan bangunan di negara tersebut. Bahkan berbagai aksesori yang ada di Pagoda Avalokitesvara seperti genteng, relief tangga berupa naga, kolam naga, lampu naga, air mancur naga, patung burung Hong dan lain sebagainya didatangkan langsung dari China.

Selain Pagoda Avalokitesvara, di kompleks Vihara Buddhagaya Watugong juga terdapat patung Budha tidur dan juga sebuah batu yang bentuknya menyerupai alat musik tradisional Gong. Inilah sebabnya daerah ini dinamakan Watugong. Karena dalam bahasa Jawa, Watu berarti batu. Jadi apalagi yang ditunggu? Ayo ke Pagoda Avalokitesvara.

Monday, 12 September 2016

Wajah Sejarah Ruins of St. Paul’s

Bentuk bangunannya sudah tidak sekomplit bangunan-bangunan lain di Senado square. Penyebabnya adalah musibah kebakaran di masa lalu yang berkali-kali menerpa Gereja Katolik terbesar di Asia timur pada masanya itu. Meskipun demikian, Ruins of St. Paul’s atau reruntuhan gereja St. Paul adalah klimaks dari wisata di Senado square. Dan menjadi landmark dari Macau.

Pertama kali dibangun tahun 1580 dan hanya berselang 15 tahun, yaitu pada tahun 1595, Gereja St. Paul tertimpa musibah kebakaran yang pertama. Kemudian musibah kebakaran yang kedua terjadi pada tahun 1601. Rekonstruksi dilakukan setahun setelah musibah kebakaran kedua terjadi dan prosesnya selesai pada tahun 1637. Pada masa ini, Gereja St. Paul menjadi gereja terbesar di Asia Timur.

Hingga akhirnya pada tahun 1835 musibah kebakaran ketiga kembali melanda Gereja St. Paul. Ini sekaligus menjadi musibah kebakaran yang terakhir dan terbesar dengan hanya menyisakan fasad depan bangunan.

Meski hanya menyisakan bagian muka gedung, bukan berarti tidak ada yang bisa dinikmati ataupun dicermati dari Ruins of St. Paul’s. Fasad depan Gereja St. Paul ini dipenuhi oleh ukiran dan ornamen. Dan tak sekedar hanya dekorasi tetapi ada cerita dibalik tiap ukiran dan ornamen yang ada. Tetapi secara umum menceritakan tentang perjalanan Gereja Katolik di Asia dan juga nuansa budaya Cina didalam pembangunan Gereja St. Paul.
Melintas masuk ke dalam Ruins of St. Paul terdapat anak tangga yang akan menuntun pengunjung menuju lantai dua fasad depan Gereja St. Paul. Tempat dimana kita bisa melihat Senado square dengan latar belakang gedung-gedung Kasino internasional. Sementara di halaman belakang ada museum Museum of Sacred Art yang dapat dikunjungi tanpa biaya sepeser pun. Museum ini menyimpan benda-benda bersejarah dan mengandung nilai religi dari abad ke 16yang berasal dari Gereja di Monaco dan negara Eropa lainnya yang dapat diselamatkan dari kebakaran hebat yang melanda waktu itu.
Tak hanya benda-benda bersejarah, Museum Of Sacred Art juga menyimpan relikui atau sisa-sisa tubuh dari para Martir yang berperan dalam membangun dan merawat Gereja St. Paul. Beberapa diantaranya berasal dari Jepang dan Vietnam. Jangan lewatkan juga kaca-kaca yang melindungi lantai yang ada di antara fasad depan Gereja St. Paul dan Museum of Sacred Art. Dibalik kaca ini kita bisa melihat fondasi asli gereja yang juga merupakan sisa dari kebakaran hebat pada tahun 1835.
Ruins of St Paul’s yang hanya menyisakan fasad depan bangunan dan dengan 66 anak tangga yang ada di depannya saat ini seringkali digunakan sebagai panggung terbuka dari gelaran pentas musik. Menjelang sore hari atau saat cuaca sedang teduh, alunan live music menjadi teman akrab sembari bersantai menikmati pemandangan gedung-gedung tua di sekitar Ruins of St. Paul's.
Saat liburan, rasa lapar memang bisa menyerang setiap saat. Tetapi di Macau atau saat sedang berada di Senado square kita tak perlu khawatir. Karena Portugis sepertinya tidak hanya meninggalkan gedung-gedung tua bernilai sejarah di negara ini. Tetapi juga resep-resep makanan dan kue yang enak-enak. Dimana Portuguese Egg Tart adalah kue camilan yang wajib dicoba. Dimana Pastellaria Koi Kei yang ada di dekat Ruins of St, Paul adalah salah satu toko yang makanan khas Macau tersebut. Selain tentunya berbagai makanan khas Macau lainnya.
Dengan semua yang ada di Ruins of St. Paul maka tak heran jika tempat ini menjadi objek wisata pertama yang harus dituju oleh para wisatawan. Lokasinya yang berada di tengah-tengah Senado square menjadikan Ruins of St. Paul's seperti pusat untuk berkumpul. Maka tak heran jika lokasi di sekitar Ruins of St. Paul's selalu berdesak-desakan dipenuhi oleh pengunjung.

Wednesday, 7 September 2016

Inilah Kuil Penis!


Ngga…kamu 100 persen ngga salah baca. Yuk ikuti dulu kisah lengkapnya. Bangkok memang menawarkan beragam bentuk wisata. Bukan hanya wisata alam dan wisata malam saja tetapi ibukota dari negara yang belum pernah dijajah ini juga menyediakan wisata kuil.

Dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Budha maka Bangkok memiliki banyak kuil dengan beraneka bentuk dan dengan segala keindahannya. Nama-nama kuil Wat Phra Kaew, Wat Pho, Wat Arun, Wat Suthat sudah tak asing diulas di berbagai buku-buku wisata perjalanan .
Kuil di Bangkok ataupun di Thailand didirikan untuk menyembah dewa atau dewi yang berbeda-beda. Oleh karena itu bentuk bangunan dan bentuk persembahan yang diberikan pun juga tak sama. Tapi kuil yang berada di halaman belakang Hotel Swissotel Nai Lert ini dijamin sukses mencuri perhatian followers instagram dan teman-teman facebook-mu.

Nama kuil ini adalah Chao Mae Tubtim atau Dewi yang dikenal berhubungan dengan kesuburan wanita. Sehingga pengunjung yang datang kesini memang semuanya perempuan yang memohon agar diberikan keturunan. Bunga melati, teratai dan hio akan dibawa saat pertama kali mereka datang untuk berdoa dan memohon.
Kemudian saat permohonannya terkabul mereka akan membawa phallus atau alat kelamin pria yang terbuat dari ukiran kayu ataupun batu untuk diletakan di bawah pohon Sai. Pohon yang diyakini menjadi tempat bersemayamnya Dewi Tubtim. Figur Dewi Tubtim sendiri juga dibuat dalam bentuk patung-patung kecil dan diletakan tak jauh dari altar. Sementara patung anak-anak kecil diletakan menyebar di tanah sebagai dekorasi.

Saat ini jumlah phallus atau penis yang ada di kuil yang tak beratap ini jumlahnya telah mencapai ratusan. Baik dari yang mulai tingginya 3 meter sampai dengan mungkin yang seukuran organ aslinya. Dari yang dicat warna merah, cokelat hingga yang dicat menyerupai warna kulit manusia sesungguhnya. Semuanya dihias dengan kain pita berwarna-warni. Ini yang menyebabkan Kuil Chai Mae Tubtim sering dikenal juga dengan nama Kuil Penis (Penis Shrine).

Selain menjadi tanda terima kasih kepada Dewi Tubtim, phallus juga dipercaya oleh masyarakat setempat menjadi jimat keberuntungan yang berhubungan dengan keuangan dan juga perlindungan. Jika di toko atau restoran yang ada di negara Jepang dan Cina sering menempatkan patung kucing di dekat mesin kasir. Maka jangan heran jika di Thailand menemukan toko atau restoran yang menempatkan Phallus di dekat mesin kasirnya. Atau beberapa orang menempatkan phallus di dalam kendaraannya sebagai jimat perlindungan dan keselamatan selama di jalan.

Tuesday, 30 August 2016

Kobaran Semangat Api Abadi Mrapen

Tidak semuanya yang bersejarah selalu tentang benda. Tengok saja api abadi Mrapen yang ada di desa Manggarmas kabupaten Grobogan. Seperti namanya, api ini memang abadi menyala sampai saat ini. Walau di siang hari tak terlihat nyala apinya. Sehingga dibutuhkan daun-daun kering untuk diletakkan diatas batu yang menutupi apinya untuk membuktikan bahwa kobaran api itu ada

Api yang berasal dari semburan gas yang keluar dari perut bumi secara alami ini seringkali digunakan dalam peristiwa-peristiwa olahraga besar maupun peristiwa keagamaan.

Yang pertama adalah pesta olahraga internasional Ganefo 1 yang menjadi tandingan dari Olimpiade dan digagas oleh Presiden RI pertama yaitu Ir. Soekarno pada tanggal 1 November 1963. Selanjutnya ada Pekan Olahraga Nasional (PON) X tahun 1981 dan PON XIV tahun 1996. Tiga peristiwa olahraga ini terdokumentasi di lokasi api abadi Mrapen dalam bentuk tugu/monumen.

Sementara itu peristiwa olahraga lain yang melibatkan api abadi Mrapen namun tidak terdokumentasikan yaitu Asian Beach Game 1 di Bali tahun 2008, Asian Beach Game 2 di Muscat tahun 2010, Asian Beach Game 3 di China tahun 2012. Dan yang terbaru adalah Sea Games XXVI tahun 2011 di Jakarta dan Palembang.

Puncak peringatan Waisak yang dipusatkan di candi Borobudur juga selalu mengambil api suci dari Mrapen yang lokasinya berada di pinggir jalan Semarang-Purwodadi ini.
Selain api abadi, di lokasi ini juga terdapat Sendang dudo dan juga Batu bobot. Sendang dudo adalah mata air yang berwarna kehijauan dan terlihat seperti air yang mendidih dikarenakan buih yang dikeluarkan mirip seperti air yang direbus diatas kompor. Namun demikian kenyataannya air Sendang dudo sama sekali tidak panas.

Sendang dudo dahulu kala konon kabarnya digunakan oleh seorang Empu untuk mendinginkan keris yang dibuatnya setelah ditempa di api Mrapen. Air dari Sendang dudo diyakini memiliki khasiat menyembuhkan beragam penyakit.

Tak jauh dari tumpukan batu api abadi terdapat batu Bobot yang ditempatkan di sebuah ruang tertutup dan terkunci. Batu Bobot ini konon merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga. Kabarnya berat batu Bobot ini hanya 20 kg tetapi belum pernah ada yang bisa mengangkatnya. Dan barang siapa yang bisa mengangkat batu Bobot maka segala keinginannya akan dikabulkan.
Keberadaaan api abadi, Sendang dudo dan batu Bobot pada masa lalu memiliki keterkaitan dalam pembuatan keris. Api abadi sebagai tempat membakar besi, batu Bobot untuk menempa dan Sendang dudo untuk mendinginkan.

Di tahun 2015, lokasi wisata api abadi Mrapen telah direnovasi. Sehingga foto-foto yang ada di halaman ini bisa dibilang sudah kadaluarsa. Dilihat dari hasil pencarian di Google saat ini kondisinya sudah sangat layak untuk menjadi tujuan wisata. Satu hal yang patut disyukuri tentunya karena berarti pemerintah setempat tak tinggal diam.

Sebuah Gedung Olahraga (GOR) juga telah dibangun di dekat lokasi api abadi Mrapen. Semoga kobaran api abadi Mrapen yang tak pernah padam ini membawa semangat baru dalam bidang olahraga di tanah air. Dan tak lupa pula semangat untuk membenahi dan mempromosikan pariwisata dalam negeri.