Labels

Showing posts with label Thailand. Show all posts
Showing posts with label Thailand. Show all posts

Thursday, 29 September 2016

Maya Bay, Surga Impian Sejuta Manusia

Surga atau nirwana dikatakan adalah satu tempat dengan pemandangan indah yang dijanjikan oleh Sang Maha Kuasa kepada umat manusia selepas jiwanya terlepas dari raga. Oleh karena itu eksistensinya di dunia nyata memang tidak ada. Namun kenyataannya di bumi pun tak sedikit tempat yang dianggap menyerupai gambaran keindahan surga. Salah satunya adalah Maya bay yang terletak di kepulauan Phi Phi, Thailand.

Sejak digunakan sebagai lokasi syuting film The Beach yang dibintangi oleh aktor Leonardo di Caprio pada tahun 1999, nama Maya bay mendadak terkenal dan menjadi destinasi impian para turis dari berbagai belahan dunia.
Maya bay memang sepertinya dianugerahi keindahan yang sempurna. Tebing tinggi yang menjulang di 3 (tiga) sisi dan dengan hijaunya pepohonan yang menyelimuti berpadu serasi dengan air laut yang berwarna hijau tosca dan birunya langit sebagai latar belakang.

Pasir putih nan lembut menghampar sepanjang 200 meter di bibir pantainya seperti siap menyambut wisatawan dari seluruh penjuru dunia untuk berleha-leha di tempat ini. Dan untungnya tak sulit untuk menjangkau Maya bay. Bahkan di bulan Mei hingga Oktober sekalipun, saat ombak laut tinggi namun tidak sampai menutup akses menuju Maya bay. Perahu dengan berbagai ukuran juga dapat dengan mudah merapat di Maya bay. Sehingga wisatawan dapat dengan bebas memilih perahu yang mau digunakan. Tinggal disesuaikan dengan bujet yang dimiliki.
Untuk menuju Maya bay, memang lebih nyaman untuk menggunakan tur lokal karena harganya jadi lebih murah. Kecuali kalau kita datang dalam rombongan besar bisa saja menyewa perahu sendiri. Setiap pengunjung Maya bay juga akan dikenakan tiket masuk tetapi biasanya sudah masuk ke dalam paket tur.

Jika keindahan surga itu memang benar adanya maka sepertinya gambaran manusia tentang surga yang ada dalam masing-masing kepala adalah sama. Meskipun tiap manusia yang ada di bumi memiliki perbedaan keyakinan, budaya, pendidikan, suku dan lain sebagainya. Maya bay bisa menjadi buktinya. Konon kabarnya setiap hari lebih dari 5 ribu orang mengunjungi Maya bay.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan dari beberapa organisasi pecinta lingkungan di Thailand. Dan di pertengahan tahun 2016 mereka menyerukan himbauan kepada pihak-pihak terkait untuk menutup sementara Maya bay dikarenakan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pengunjung yang melebihi daya tampung setiap harinya.
Kepadatan turis di Maya bay memang seharusnya dirasakan langsung oleh wisatawan yang datang ke tempat ini. Mereka tak bisa lagi tidur-tidur santai di putihnya pasir Maya bay sambil menikmati sinar matahari yang berlimpah.

Tetapi jika memang harus liburan ke Maya bay. Cara terakhir yang boleh dicoba adalah berangkat sepagi mungkin atau datang setelah jam 7 sore. Dan nikmatilah sepotong surga kecilmu.

Wednesday, 14 September 2016

Kostum Mewah dan Tarian Profesional Ladyboy Simon Cabaret

Dimulai sejak matahari terbit hingga terbenam adalah waktu terbaik untuk menjelajahi eksotisme pantai-pantai di Phuket. Tetapi ketika hari berganti malam maka tiba waktunya untuk menikmati eksotisme bidadari-bidadari transgender di Phuket yang dipentaskan di panggung Simon Cabaret.

Di Thailand toleransi terhadap status transgender memang lebih lunak. Sehingga pertunjukan seni tari dan suara yang menampilkan kaum transgender atau ladyboy seperti Simon cabaret dan sejenisnya banyak dijumpai. Bahkan di atas kapal dalam perjalanan menuju James Bond island pun tak lepas dari pertunjukan serupa.
Dalam satu malam, Simon cabaret menampilkan 3 kali pertunjukan yang dimulai pada sore hari. Tiketnya bisa dibeli di lokasi atau melalui agen-agen wisata yang tersebar di Phuket. Namun untuk detail jam pertunjukan dan harga tiket dapat dengan mudah diakses informasinya melalui website resminya disini.

Pertunjukan Simon cabaret serupa tapi tak sama dengan Calypso cabaret yang ada di Bangkok. Keduanya menampilkan seni tari tradisional dan modern. Tak lupa dibawakan pula lagu-lagu populer dari berbagai negara yang dinyanyikan secara lip synch. Bumbu komedi mendominasi pertunjukan di hampir sepanjang acara yang berlangsung selama kurang lebih 60 menit ini.
Tetapi Simon cabaret mempunyai nilai plus yaitu panggung dan kostum-kostum ladyboy-nya yang terlihat lebih mewah dengan tarian yang lebih profesional. Pengunjung dijanjikan akan dibuat bingung oleh gerak tari dan nyanyian para bidadari transgender Simon cabaret ini. Yang katanya lebih kuat dari seorang pria dan lebih gemulai dari seorang wanita disaat yang bersamaan. Sayang pengunjung tidak diperbolehkan mendokumentasikan pertunjukan Simon cabaret ini.
Pengunjung baru diperbolehkan untuk berfoto bersama para ladyboy setelah acara berlangsung. Lokasi tepatnya berada di halaman samping venue. Setiap pengunjung boleh berfoto dengan ladyboy yang manapun. Asal tak lupa membayar dengan harga yang sudah ditetapkan untuk setiap kali foto.

Wednesday, 7 September 2016

Inilah Kuil Penis!


Ngga…kamu 100 persen ngga salah baca. Yuk ikuti dulu kisah lengkapnya. Bangkok memang menawarkan beragam bentuk wisata. Bukan hanya wisata alam dan wisata malam saja tetapi ibukota dari negara yang belum pernah dijajah ini juga menyediakan wisata kuil.

Dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Budha maka Bangkok memiliki banyak kuil dengan beraneka bentuk dan dengan segala keindahannya. Nama-nama kuil Wat Phra Kaew, Wat Pho, Wat Arun, Wat Suthat sudah tak asing diulas di berbagai buku-buku wisata perjalanan .
Kuil di Bangkok ataupun di Thailand didirikan untuk menyembah dewa atau dewi yang berbeda-beda. Oleh karena itu bentuk bangunan dan bentuk persembahan yang diberikan pun juga tak sama. Tapi kuil yang berada di halaman belakang Hotel Swissotel Nai Lert ini dijamin sukses mencuri perhatian followers instagram dan teman-teman facebook-mu.

Nama kuil ini adalah Chao Mae Tubtim atau Dewi yang dikenal berhubungan dengan kesuburan wanita. Sehingga pengunjung yang datang kesini memang semuanya perempuan yang memohon agar diberikan keturunan. Bunga melati, teratai dan hio akan dibawa saat pertama kali mereka datang untuk berdoa dan memohon.
Kemudian saat permohonannya terkabul mereka akan membawa phallus atau alat kelamin pria yang terbuat dari ukiran kayu ataupun batu untuk diletakan di bawah pohon Sai. Pohon yang diyakini menjadi tempat bersemayamnya Dewi Tubtim. Figur Dewi Tubtim sendiri juga dibuat dalam bentuk patung-patung kecil dan diletakan tak jauh dari altar. Sementara patung anak-anak kecil diletakan menyebar di tanah sebagai dekorasi.

Saat ini jumlah phallus atau penis yang ada di kuil yang tak beratap ini jumlahnya telah mencapai ratusan. Baik dari yang mulai tingginya 3 meter sampai dengan mungkin yang seukuran organ aslinya. Dari yang dicat warna merah, cokelat hingga yang dicat menyerupai warna kulit manusia sesungguhnya. Semuanya dihias dengan kain pita berwarna-warni. Ini yang menyebabkan Kuil Chai Mae Tubtim sering dikenal juga dengan nama Kuil Penis (Penis Shrine).

Selain menjadi tanda terima kasih kepada Dewi Tubtim, phallus juga dipercaya oleh masyarakat setempat menjadi jimat keberuntungan yang berhubungan dengan keuangan dan juga perlindungan. Jika di toko atau restoran yang ada di negara Jepang dan Cina sering menempatkan patung kucing di dekat mesin kasir. Maka jangan heran jika di Thailand menemukan toko atau restoran yang menempatkan Phallus di dekat mesin kasirnya. Atau beberapa orang menempatkan phallus di dalam kendaraannya sebagai jimat perlindungan dan keselamatan selama di jalan.

Tuesday, 30 August 2016

Aneka Rupa Eksekusi Mati di Bangkok Corrections Museum

Sudah pasti tak ada orang yang mau dihukum mati. Membayangkan pun enggan rasanya. Tapi di Bangkok berbagai cara eksekusi hukuman mati divisualisasikan dalam bentuk gambar dan diorama. Bangkok Corrections Museum, jelas namanya tak setenar Madame Tussaud. Tetapi kehadirannya menambahkan sesuatu yang berbeda saat berlibur di ibukota Thailand ini.

Museum yang terletak di jalan Mahachai ini dulunya adalah penjara dengan fasilitas keamanan maksimum untuk menampung narapidana dengan kejahatan berat. Hingga akhirnya dibangun penjara yang baru dan ditutuplah penjara ini berikut fungsinya pun juga diganti menjadi museum. Sebagian area dari penjara ini juga telah dialih fungsikan untuk dijadikan ruang terbuka publik bernama Rommani Nart public park.

Terdapat 2 (dua) unit gedung di Bangkok Corrections Museum yang digunakan untuk memamerkan beragam cara eksekusi hukuman mati yang dulu dijalankan di Thailand. Semuanya dapat kita kunjungi tanpa perlu dipungut biaya sepeser pun.

Saat datang, pengunjung akan diarahkan oleh penjaga untuk menuju gedung yang pertama yang dinamakan “Cell Block 9”. Gedung bertingkat 2 lantai ini adalah gambaran sesungguhnya dari ruang penjara yang digunakan pada jaman dahulu. Masing-masing ruang berukuran 1x2 meter tanpa ada satupun jendela. Hanya tersedia satu pintu berjeruji besi saja.

Sebelum masuk ke “Cell Block 9”, penjaga yang mengantar akan menginformasikan kepada setiap pengunjung bahwa dilarang untuk mengambil segala bentuk rekaman foto/video di gedung tersebut. Wajahnya yang tanpa senyum dan dengan kumis tebalnya seolah memperlihatkan bahwa informasi tersebut sekaligus sebagai peringatan serius. Dan terbukti memang segala gerak-gerikku seolah tak pernah lepas dari pengawasannya. Walau kemudian sikapnya mencair ketika diajak foto bareng. Klik…
Dalam tiap ruang tahanan di Cell Block 9, dibuat berbagai macam diorama eksekusi hukuman mati dengan menggunakan manekin manusia dengan ukuran yang sesungguhnya. Salah satu yang terlihat adalah proses interogasi dengan menempatkan pengait tajam berukuran besar dibawah dagu tahanan. Ketika kondisi si tahanan melemah lalu kepalanya mulai menunduk maka pengait tajam tersebut akan semakin dalam menusuk kedalam tengkoraknya.

Di ruang yang lain terdapat seorang tahanan yang ditempatkan dalam bola rotan. Eksekusi hukuman mati akan dijalankan dengan cara menempatkan bola rotan yang berisi tahanan tersebut sebagai bola kaki dalam permainan sepakbola gajah.

Beranjak dari Cell Block 9, pengunjung akan diarahkan ke gedung kedua yaitu Block 1. Gedung ini juga terdiri dari 2 lantai dimana di pintu masuknya diperlihatkan gambar-gambar cara eksekusi hukuman mati pada jaman dahulu.

Kemudian di lantai 2 (dua) diperlihatkan eksekusi hukuman mati dengan cara yang lebih kekinian. Yaitu dengan menggunakan senjata untuk tembak mati dan juga dengan cara suntik mati. Beberapa senjata yang digunakan dalam eksekusi hukuman mati juga dipamerkan di ruangan ini.

Friday, 12 August 2016

Panggung Ekspresi Bidadari Transgender


Walau keberadaan kaum transgender hampir sama tuanya dengan peradaban kaum manusia namun pro dan kontra mengenai status transgender hingga saat ini tak kunjung usai. Sulit memang karena masing-masing orang memiliki argumentasi dan sudut pandang yang berbeda-beda.

Thailand merupakan salah satu negara yang cukup terbuka terhadap status transgender. Bahkan mereka menjadi salah satu daya pikat pariwisata Thailand yang dikemas dalam bentuk kabaret. Seperti di Bangkok dan Phuket contohnya.

Di Bangkok, pertunjukan kabaret yang diperankan oleh kaum transgender atau yang dalam bahasa internasional sering disebut sebagai Ladyboy dipentaskan di Asiateque Waterfront.

Pertunjukan selama kurang lebih satu jam tersebut dikemas dalam beberapa sesi cerita. Dimana unsur komedi, musik dan nyanyian lipsync menjadi bumbu utama dalam pementasan ini. Tetapi dalam sesi tertentu mereka juga menampilkan pementasan yang serius, seperti misalnya tarian tradisional Thailand, Jepang dan Korea.
Walau tidak menampilkan nudity tetapi kebijaksanaan orang tua dalam mengajak anak-anaknya untuk menyaksikan pertunjukan ini tetap diperlukan. Terutama untuk pengunjung dari negara kita sendiri. Karena secara umum pentas Calypso cabaret mengekspos tubuh para aktrisnya.

Penampilan ladyboy dalam Calypso cabaret tak jarang mengundang rasa iri para penonton wanita. Tak sedikit dari mereka yang justru memiliki wajah yang lebih cantik dengan kulit yang putih, mulus dan terawat dibandingkan orang yang memang terlahir sebagai perempuan.
Sebagai suvenir acara, diakhir pertunjukan setiap penonton dapat berfoto dengan Ladyboy yang menjadi incaran. Boleh berfoto dengan satu atau lebih. Syaratnya cukup sediakan uang tips dengan jumlah yang telah ditentukan untuk setiap kali foto.

Tiket pertunjukan Calypso cabaret dapat dengan mudah dipesan melalui berbagai cara. Namun yang paling mudah tentunya dengan cara online lewat websitenya. Berbagai informasi penting lainnya pun dapat dengan mudah diakses.

Hanya satu tips terakhir untuk penonton pria yang duduk di baris depan. Bersiaplah untuk mendapat ciuman mesra! Mungkin kamu salah satu penonton yang beruntung.