Labels

Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

Tuesday, 30 October 2018

Kaliurang, Tempat Penjajah Bertetirah di Kaki Gunung Merapi








Inilah
Kaliurang, kota kecil di kaki Gunung Merapi yang kondang akan kesejukan dan
keindahannya yang menarik pelancong baik dari dalam atau luar negeri. Kaliurang
sebagai tempat untuk bertamasya bukanlah barang baru. Lama sejak masa kolonial,
para keluarga Belanda, Tionghoa kaya, hingga kaum ningrat Jawa menyambanginya sebagai
tempat melepas penat di kala senggang. Bagaimanakah riwayat

Tuesday, 7 February 2017

Kepingan Kolonial di Sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta













Hari ini, Jalan Malioboro masih menjadi magnet wisatawan yang beranjangsana ke Yogyakarta. Di sepanjang jalan yang ramai itu, berjajar beberapa gedung tua peninggalan Belanda yang
masih tersisa, memperkental nuansa sejarah di kota istimewa itu. Pada tulisan Jejak Kolonial
kali ini, saya mencoba untuk merangkai kembali kepingan-kepingan peninggalan
kolonial di sepanjang jalan itu.

Monday, 14 November 2016

Cave Tubing Kalisuci, Sensasi Susur Sungai Bawah Tanah

Wisata susur sungai dengan menggunakan perahu karet atau yang biasa disebut rafting beberapa waktu lalu memang menjadi favorit banyak orang. Namun perlahan-lahan, wisata tubing atau susur sungai dengan menggunakan ban mulai mendapatkan tempat di hati wisatawan. Walaupun antara rafting dan tubing tak bisa disamakan. Karena dalam tubing, arus sungai yang menemani tak sederas wisata rafting namun tetap dapat memantik keseruan.

Salah satu daerah yang menjadi destinasi favorit untuk wisata tubing adalah kabupaten Gunung kidul yang ada di provinsi Yogyakarta. Anehnya, Gunung kidul justru dikenal sebagai daerah yang tandus karena kondisi alamnya yang berupa perbukitan kapur. Tetapi siapa sangka, justru dibalik kerasnya perbukitan kapur tersebut banyak mengalir sungai bawah tanah. Bukan hanya sekedar tubing di sungai jadinya. Tapi tubing menyusuri sungai yang mengalir di dalam goa. Jadilah namanya : Cave tubing!
Tak diragukan jika orang-orang selama ini lebih mengenal goa Pindul sebagai destinasi wisata cave tubing di Gunung kidul. Karena memang nama depannya sudah menyertakan kata “Goa”. Padahal Gunung kidul punya destinasi wisata cave tubing lain yang tak kalah seru. Namanya Kalisuci, dibuka sejak tahun 2009 dan lokasinya tak jauh dari goa Pindul.
Sepintas orang memang akan tidak tahu kalau tubing di Kalisuci juga menyusuri goa. Karena memang tidak ada kata "Goa" di depannya. Padahal jarak sungai yang disusuri lebih panjang daripada goa Pindul dan lebih menantang dengan melewati 2 buah goa yang memiliki 2 karakter berbeda. Goa pertama bertipe horisontal dan yang kedua vertikal (luweng).

Setiap wisatawan yang datang akan dikenakan biaya sebesar 70 ribu rupiah. Didalamnya sudah termasuk sewa ban, jaket pelampung, helm, alat pelindung tulang kering dan siku. Pengunjung yang sudah mendaftar tidak akan langsung menuju sungai untuk segera tubing. Tetapi akan dibagi dalam kelompok-kelompok berjumlah 10 -15 orang dan ditemani oleh 3-4 petugas yang akan menemani dan menjelaskan segala sesuatu tentang Kalisuci dan goa yang dilalui.
Ketika kuota kelompok sudah terpenuhi, maka semuanya akan berjalan bersama turun menuju sungai yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari tempat pendaftaran. Sebelum “nyemplung”, pengunjung akan diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai prosedur tubing. Terutama bagaimana cara mengangkat badan dengan menggunakan siku agar pantat tidak menabrak batu karang.
Wisatawan yang tidak bisa berenang tak perlu khawatir karena para petugas yang menemani selalu sigap dalam menolong. Lagipula badan kita pun sudah dilindungi oleh jaket pelampung sehingga tak perlu khawatir tenggelam. Dan arus sungai yang dihadapi pun juga tak terlalu deras. Jadi tak perlu panik atau takut sebelumnya.
Keadaan di dalam goa yang dilewati dalam wisata cave tubing di Kalisuci sangat gelap dan satu-satunya sumber cahaya hanya ada pada lampu senter yang menempel pada helm petugas yang menemani. Meski gelap, pengunjung tak perlu takut karena di Kalisuci tidak ada buaya ataupun binatang buas lainnya. Ular? iya ada, sesekali dijumpai antara bulan Juli dan Agustus saat musim kemarau dan udara panas. Tapi belum pernah dijumpai kasus ular menggigit pengunjung di Kalisuci.
Sehingga pengunjung dapat dengan tenang dan senang menikmati arus sungai yang mengombang-ambingkan tubuh kita ke kanan dan ke kiri sambil sesekali menabrak batu karang. Saat air sungai sedikit tinggi, cave tubing di Kalisuci bisa jadi lebih seru karena arusnya menjadi lebih deras. Bahkan terkadang membuat tubuh kita terlempar keluar dari ban.

Tetapi jika debit air terlalu tinggi, cave tubing di Kalisuci malah memungkinkan tidak dibuka karena dapat membahayakan nyawa pengunjung. Situasi tersebut bisa terjadi saat musim hujan atau saat hulu sungai Kalisuci diguyur hujan lebat. Goa yang tingginya 12 meter akan tertutup semua oleh air.
Di goa kedua, yang menjadi tempat finish. Terdapat sebuah lubang goa besar diatas kepala kita. Masyarakat setempat menyebut lubang goa vertikal dengan sebutan Luweng. Sebelum naik kembali ke darat, pengunjung boleh berfoto dan bermain air sepuasnya disini dikarenakan arus sungainya yang sangat tenang. Para petugas yang menemani pun tak sungkan untuk mengulurkan tangan membantu pengunjung yang ingin berfoto. Mereka pun juga tak segan untuk mengatur pose dan menunjukan spot foto yang bagus.

Sisakan sedikit tenaga setelah selesai sesi foto. Karena untuk keluar menuju sungai dan menuju darat, pengunjung harus menaklukan puluhan anak tangga yang sempit dan curam untuk menuju pos istirahat sebelum dijemput mobil pick up yang akan membawa pengunjung kembali ke titik awal, yaitu pos pendaftaran. Belum lagi kondisi badan yang basah akan membuat langkah menjadi sedikit lebih berat dari biasanya.
Sesampainya di pos pendaftaran, para pengunjung bisa membilas badan di kamar mandi yang tersedia dalam kondisi bersih. Dan sambil menunggu teman mandi, semangkuk mie instan dan teh manis hangat cocok untuk mengisi kembali tenaga yang habis terkuras.

Yang perlu menjadi perhatian bagi yang akan liburan ke Kalisuci, dalam sehari pengunjung yang datang untuk wisata cave tubing di Kalisuci dibatasi hanya untuk 200 orang saja. Peraturan yang dibuat oleh masyarakat setempat selaku pengelola pantas diapresiasi karena terlalu banyaknya pengunjung maka resiko keselamatan yang akan dihadapi juga semakin besar. Dan yang paling penting mereka percaya bahwa alam yang mereka “jual” juga memiliki hak untuk tetap lestari.

Wednesday, 9 November 2016

Pacu Adrenalin di Pantai Timang dengan Gondola Kayu

Kabupaten Gunung Kidul yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal akan keindahan panorama pantainya. Ombak tinggi dan karang bebatuan berukuran besar menjadi ciri khas pantai-pantai di Gunung Kidul yang terletak di selatan pulau Jawa. Sehingga hanya menyisakan sedikit spot yang dapat digunakan untuk berenang dan bermain-main. Tapi bukan berarti tak asyik, karena pantai-pantai di Gunung kidul justru banyak menawarkan aktivitas seru liburan di pantai tanpa harus bermain air.

Ombak tinggi di pantai selatan memang membuat wisatawan sedikit kurang nyaman. Tapi justru membawa berkah untuk para nelayan disana berupa tangkapan udang Lobster. Salah satu spot yang menjadi lokasi berburu udang Lobster di kabupaten Gunung kidul adalah Pantai Timang. Sebuah pulau karang yang terletak di seberang menjadi tempat favorit para nelayan untuk memancing udang yang harganya ”Wah” di rumah makan Seafood tersebut.
Tapi jarak pulau tersebut bukannya dekat. Mungkin sekitar 50 hingga 100 meter yang dipisahkan oleh ombak tinggi yang seringkali menghempas tembok karang. Suara dentuman ombak yang menabrak karang dan deburannya akan membuat ciut nyali orang awam. Namun karena nilai ekonomis udang Lobster yang tinggi, para nelayan lokal pun membuat sebuah gondola kayu yang digunakan untuk menyeberang ke pulau tersebut.
Bahan-bahan yang digunakan pun sangat sederhana, hanya empat buah velg motor yang digunakan sebagai roda dan beberapa utas tali tambang yang digunakan sebagai lintasan. Prinsip mekanikal kerjanya sangat sederhana. Mirip dengan permainan flying fox. Namun karena (dua) tiang yang menjadi penghubung antar dua pulau tersebut tingginya sama, maka mereka menggunakan tenaga manusia untuk menarik penumpang dalam gondola tersebut.
Dalam satu kali perjalanan, gondola tersebut mampu mengangkut sejumlah 4 (empat) orang dengan tenaga manusia yang digunakan untuk menyeberangkan penumpang mencapai 6-8 orang. Mereka pun saling berganti-gantian antara sesama nelayan untuk menyeberangkan temannya menuju pulau seberang saat akan menangkap udang Lobster.

Melihat para nelayan Lobster menyeberang pulau di pantai Timang tak sedikit yang hanya bisa menahan nafas. Tapi disaat yang sama, mereka yang penasaran ingin mencoba pun juga banyak. Hingga akhirnya di kalangan wisatawan yang gemar memacu adrenalin, gondola pantai Timang mulai menjadi tantangan yang wajib dicoba.

Gayung pun bersambut, para masyarakat lokal pun menyambut antusiasme para wisatawan. Mereka yang berani menyeberang akan dikenakan biaya sebesar 150 ribu per orang. Mungkin buat yang belum pernah kesana dan mencoba akan kaget membaca harganya yang terkesan mahal. Tapi ketika sudah tiba di lokasi, harga tersebut akan terasa wajar. Karena untuk membentangkan tali yang menghubungkan 2 (dua) pulau tersebut para warga setempat harus berenang dan bertarung melawan dashyatnya ombak pantai Selatan.

Dalam musim liburan, per harinya pantai Timang dapat dikunjungi oleh berpuluh-puluh orang yang sangat antusias untuk menyeberang dengan menggunakan gondola kayu. Walau tujuan awalnya memang bukan untuk kegiatan wisata tetapi minat tinggi para wisatawan yang ingin mencoba sudah seharusnya diimbangi dengan fasilitas-fasilitas tambahan. Yang paling penting tentunya asuransi mengingat aktivitas menyeberang dengan gondola di pantai Timang ini memiliki resiko yang sangat besar.

Untuk itu tentunya sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara pemerintah setempat dengan warga lokal untuk mengakomodasi antusiasme pengunjung. Kondisi akses jalan menuju pantai Timang yang masih berupa tanah juga seharusnya mulai menjadi pemikiran pihak-pihak yang berkepentingan mengingat kondisinya belum layak, apalagi di musim hujan. Tetapi kebersihan fasilitas toilet yang disediakan secara swadaya oleh warga setempat patut diapresiasi.

Untuk pengunjung yang memiliki niat untuk berlibur ke pantai Timang tanpa menggunakan mobil, tak jauh dari jalan masuk banyak warga lokal yang bersedia untuk mengantarkan dengan menggunakan sepeda motor. Tetapi bagi yang membawa mobil dapat terus melanjutkan perjalanan hingga terus menuju lokasi pantai Timang. Abaikan saja jika ada pihak-pihak yang berusaha menghentikan mobil di saat akan masuk.
Ketika sampai di pantai Timang, pengunjung dapat membayar jasa menyeberang di sebuah pondok kayu sederhana yang terletak tak jauh dari bibir tebing karang. Tak lama kemudian pengunjung akan diajak untuk naik ke dalam gondola kayu dan menghabiskan waktu selama kurang lebih 3 menit untuk menyeberang. Sangat dianjurkan untuk tidak panik selama menyeberang dikarenakan justru dapat membahayakan keselamatan diri sendiri. Untuk itu lebih baik berteriaklah!

Buat pengunjung yang takut menyeberang, mereka dapat berfoto di panggung-panggung kecil yang dibuat menjorok keluar dari tebing. Ongkos yang dikenakan untuk berfoto di tempat tersebut hanya seharga 5 ribu rupiah saja. Alternatif lainnya, para pengunjung yang tak memiliki nyali besar dapat kembali ke fitrah liburan di pantai yaitu bermain air. Sebuah pantai dengan pasir putih yang terletak tak jauh dari spot gondola kayu menjadi tempat yang cukup nyaman untuk bermain-main. Tapi untuk keseruan yang berbeda di Gunung kidul, menyeberang dengan gondola kayu di pantai Timang memang tak boleh dilewatkan.

Wednesday, 19 October 2016

Nasi Goreng B2 Papilon yang Bikin Lidah Berdisko

Di Indonesia hidangan apa yang tak digoreng. Bahkan nasi pun juga digoreng. Tapi menu sederhana dan boleh dibilang murah meriah ini sangat kaya variasi dan banyak digemari. Ada yang ditambahkan dengan suwiran ayam, potongan daging sapi atau kambing hingga seafood. Dan buat kalangan tertentu yang tidak memiliki larangan menu makanan. Nasi goreng menjadi menu yang sangat nikmat ketika dicampur dengan potongan daging babi (B2).

Walau dikenal sebagai kota Gudeg tetapi Yogyakarta masih menyimpan banyak kuliner nusantara yang enak di lidah dan bersahabat dengan kantong. Tak terkecuali juga menu nasi goreng B2. Salah satu penjual nasi goreng B2 di Yogyakarta yang cukup dikenal yaitu Nasi goreng B2 Papilon.

Kata Papilon diambil dari meminjam nama diskotik yang dulu pernah buka disebelah warung Nasi goreng B2 yang berada di Jalan Mayor Suryotomo ini. Tapi kini diskotik tersebut sudah tak buka lagi. Tapi pengunjung yang berniat makan Nasi goreng B2 Papilon ini tak perlu kebingungan saat mencari. Cukup cari Hotel Melia Purosani atau Toko Progo yang legendaris di kota Yogyakarta maka kamu akan bisa langsung menemukan tempat ini. Ramainya pembeli dan motor yang parkir di pinggir jalan menjadi penanda keberadaan warung ini.
Warung nasi goreng B2 Papilon mulai buka mulai jam 19.00 dengan menggunakan gerobak dan pengunjung yang makan disediakan tempat di trotoar untuk ngemper beralas tikar. Sebelum disajikan ke pengunjung, nasi goreng dimasak dalam wajan yang besar. Sementara potongan daging B2 sudah dimasak dari rumah sebelumnya. Sehingga pengunjung sebenarnya bisa menikmati nasi goreng dengan atau tanpa potongan daging B2.

Selain menu nasi goreng B2, di tempat ini juga menjual B2 kecap dan Cap cay. Dua menu ini juga tak kalah nikmatnya. B2 kecap yang manis dan Cap cay Jawa yang segar. Harga untuk tiga menu ini semuanya dibanderol sangat murah. Mulai dari 9 ribu saja per porsi.

Tuesday, 18 October 2016

Pedas Segar Rujak Es Cream Pak Paino

Kebiasaan orang Yogyakarta kalau cuaca panas malah makan rujak pedas. Tapi tak sedikit juga yang suka makan es cream. Mungkin dari kebiasaan itulah timbul perpaduan menu baru yang ternyata tak kalah digemari yaitu Rujak es cream.

Salah satu daerah di Yogyakarta yang banyak menjajakan Rujak es cream adalah Pura Pakualaman dengan pak Paino yang telah berjualan sejak tahun 1990 sebagai salah satu pelopornya. Berbekal gerobak dorong dan sebuah payung tenda besar, pak Paino mulai berjualan jam 9 pagi dibawah sebuah pohon besar yang terletak di sudut jalan Harjowinatan. Saat cuaca panas, tak jarang Rujak es cream buatannya sudah habis terjual sebelum sore hari.
Rujak yang ia sajikan tidak berbeda dengan rujak pada umumnya yang isinya serutan buah yang terdiri dari mangga, kedondong, pepaya, nanas, bengkoang, mentimun yang kemudian disiram dengan bumbu ulekan gula jawa dan asam yang diberi sedikit air.

Bagi pengunjung yang menyukai rasa pedas ataupun tidak pedas tak perlu khawatir karena cabainya dihidangkan terpisah. Sebagai toping, seperti namanya, ditambahkanlah es cream puter tanpa pemanis buatan hasil tangan pak Paino sendiri. Kuliner tradisional Yogyakarta yang dihidangkan diatas piring kecil tersebut dihargai 5 ribu rupiah saja per porsi.

Tak hanya Rujak es cream, buat pengunjung yang menyukai rujak potong atau yang di Yogyakarta disebut dengan Lutis juga bisa dinikmati disini. Harganya pun tak beda jauh untuk satu porsinya, hanya 6 ribu rupiah saja.

Monday, 17 October 2016

Hutan Pinus Mangunan, Sudut Tenang Yogyakarta

Kemacetan jalan saat ini sudah bukan menjadi milik Jakarta saja. Tetapi sudah menjangkiti kota-kota lainnya dan tak terkecuali Yogyakarta. Seperti dirilis banyak organisasi kesehatan tentang pengaruh tingkat stres yang diakibatkan oleh kemacetan. Hal tersebut juga tak bisa dilepaskan dari warga Yogyakarta.

Oleh sebab itu di Yogyakarta saat ini mulai bermunculan tempat-tempat wisata yang berorientasi ke alam. Sudut-sudut alam yang dulunya dianggap tidak memiliki nilai wisata kini berubah menjadi tempat liburan favorit. Contohnya saja Hutan Pinus Mangunan yang berada tak jauh dari Puncak kebun buah Mangunan.

Wisata hutan pinus yang saat ini menjadi lokasi favorit liburan tidak bisa dilepaskan dari film yang diadaptasi dari novel yaitu Twilight. Dengan peranan media sosial nama Hutan Pinus Mangunan yang terletak di desa Dlingo kabupaten Bantul, Yogyakarta ini menjadi semakin terkenal.
Dimulai saat itulah Hutan Pinus Mangunan menjadi tempat wisata favorit warga Yogyakarta untuk menghilangkan stres dan juga lokasi prewedding ala-ala film Twilight. Apalagi di Hutan Pinus Mangunan dibangun fasilitas-fasilitas yang mendukung kegiatan tersebut. Diantaranya gardu pandang, persewaan hammock, ayunan hingga panggung konser yang dibuat dari kayu.

Tiket masuk Hutan Pinus Mangunan pun dapat dibeli dengan harga yang sangat murah. Cukup dengan membeli tiket parkir 3 ribu rupiah untuk sepeda motor dan 10 ribu rupiah untuk mobil. Sedangkan untuk masuk ke area panggung yang terbuat dari kayu-kayu, pengunjung akan dikenakan tiket tambahan seharga 2.500 rupiah saja.
Hutan pinus Mangunan juga menjadi pembelajaran yang menarik bagi kita semua. Karena dilihat dari sejarahnya, area Hutan pinus Mangunan yang luasnya mencapai 500 ha dulunya adalah sebuah tanah tandus. Sampai kemudian diadakan program reboisasi dengan penanaman pohon pinus, mahoni, akasia, dan lain sebagainya.

Hasilnya, Hutan pinus Mangunan yang saat ini dikelola oleh Resor Pengelolaan Hutan (RPH) bukan saja menjadi tempat yang bisa mendatangkan pemasukan bagi daerah setempat tetapi juga menjadi tempat wisata yang memberikan kebaikan bagi manusia. Dan tantangan berikutnya yang muncul kemudian adalah mampukah kita yang berkunjung ke Hutan pinus Mangunan tetap menjaga keasriannya?

Es Teler Rumah Makan Murni 83 Segarnya Lintas Era

Peninggalan kuno di Yogyakarta tak hanya Candi, Keraton, komplek Taman sari dan bangunan bersejarah lainnya. Tak sedikit kuliner yang ada di kota Gudeg ini juga memiliki usia yang tak lagi muda. Tetapi usia yang tak lagi muda bagi sebuah kuliner bukan berarti menjelang “kematian” alias ditinggalkan penggemarnya.

Justru jenis kuliner tersebut yang kemudian dicari oleh para penggemar makanan karena dianggap memiliki citarasa yang melegenda. Seperti es teler di Rumah Makan Murni 83 yang berada di Jalan Tukangan no. 45 ini. Dibuka pertama kali pada tahun 1978 sampai dengan saat ini, yang berubah dari es Teler di Rumah makan Murni 83 hanya nomor rumah saja tetapi tidak dengan citarasanya.
Pemilik Rumah makan Murni 83 tetap mempertahankan angka 83 sebagai bagian dari nama rumah makannya alih-alih menggunakan 45 sebagai nomor baru lokasi usahanya.

Es teler menjadi menu favorit di Rumah makan Murni 83 dari beberapa jenis es lainnya. Kesatuan rasa dari campuran kelapa muda, agar-agar, nangka dan tape ketan yang disiram dengan es serut, susu kental manis dan sirup benar-benar menciptakan kesegaran otentik khas es Teler ala Rumah makan Murni 83.

Untuk penggemar durian, disediakan juga es Teler durian sebagai variasi lain namun tanpa mengurangi citarasa khasnya. Keduanya dihargai dengan nominal yang sama yaitu 20 ribu rupiah.
Meski dikenal dengan es Teler-nya tetapi bukan berarti rumah makan Murni 83 tidak memiliki menu makanan yang memikat. Berbagai menu makanan khas Yogyakarta dan kota-kota lain juga tersedia. Sebut saja salah satunya Bestik Jawa. Citarasanya sangat mirip dengan Selat Solo. Tetapi Bestik Jawa di Rumah makan Murni 83 disajikan dengan kuah asam manis. Dan harga seporsinya cuma 17 ribu saja.

Perpaduan antara es Teler yang manis segar dan Bestik Jawa dengan kuah yang asam ketika disatukan akan menciptakan sensasi rasa yang benar-benar enak. Dan yang paling penting juga tidak bikin kantong bolong!

Thursday, 13 October 2016

Kolam Renang Alami di Pantai Wediombo. Kala Nama Tak Sesuai Kenyataan

Kalau ada orang yang masih percaya istilah “apalah arti sebuah nama”, mungkin dia belum pernah liburan ke pantai Wediombo. Dalam bahasa Jawa, Wediombo jika diterjemahkan berarti hamparan pasir putih yang luas. Wedi = pasir, Ombo = luas.

Tetapi saat datang kesana ternyata yang didapati bukanlah hamparan pasir putih yang luas seperti namanya. Apalagi jika dibandingkan dengan pantai Indrayanti. Bebatuan karang berukuran besar tak sedikit menghiasi bibir pantainya.

Tapi bukan berarti pemandangan yang ada di pantai Wediombo akan mengecewakan pengunjung. Justru dari batu-batu karang di pantai Wediombo itu para wisatawan dapat menikmati keindahan alam di pantai ini.
Karena dari formasi batu karang yang ada di pantai Wediombo bentuknya ada yang menyerupai kolam renang alami. Pengunjung bahkan bisa berenang dan menyewa ban untuk bermain di kolam renang alami pantai Wediombo tersebut. Tapi sebelum sampai ke tempat tersebut, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 500 meter melewati pasir dan bebatuan karang

Sementara itu bagian depan kolam renang alami pantai Wediombo adalah sebuah batu karang besar yang landai permukaannya. Tempat tersebut dijadikan lokasi bagi para pemancing untuk mengail ikan.
Meski ditutupi oleh batu karang besar yang ada di depannya tetapi ombak besar pantai selatan Yogyakarta sesekali masih bisa mencapai kolam renang alami pantai Wediombo. Oleh karena itu para wisatawan yang berenang di kolam renang alami pantai Wediombo juga diharapkan untuk tetap berhati-hati. Karena ombak besar tersebut bisa saja menghantam dan menarik wisatawan yang berenang di tempat tersebut.

Dan setelah puas menikmati berenang di kolam alami pantai Wediombo pengunjung tak perlu khawatir untuk mandi ataupun makan. Di pantai Wediombo segala keperluan mandi dan makan dapat terpenuhi dengan baik karena sudah banyak kamar mandi umum yang bersih dan warung makan yang lumayan enak.

Wednesday, 12 October 2016

Pantai Nglambor, Sensasi Snorkeling di Pantai Selatan Yogyakarta

Berbicara tentang pantai selatan Yogyakarta tidak akan lepas dari 2 (dua) hal. Yang pertama legenda Ratu pantai selatan dan yang kedua adalah ombak besar. Maka jika ada orang yang mau snorkeling di pantai selatan Yogyakarta bisa dikatakan orang tersebut mau menjemput maut.

Tapi poin kedua diatas kini tak berlaku lagi semenjak dibukanya pantai Nglambor untuk para wisatawan. Meski tak terlalu jauh dari bibir pantai tetapi aktivitas snorkeling di pantai Nglambor cukup digemari oleh wisatawan. Baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Untuk menuju spot snorkeling pantai Nglambor pengunjung akan dihadapkan oleh 2 (dua) pilihan. Berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km atau naik ojek dengan ongkos 5 ribu rupiah sekali jalan. Untuk pulangnya, ongkos ojek bisa menjadi 10 ribu rupiah jika pengunjung naik ojek dari bawah.

Ombak besar pantai selatan Yogyakarta yang berasal dari Samudera Hindia dapat dijinakkan di pantai Nglambor oleh 2 (dua) buah batu karang yang dinamakan “Watu kalong” dan “Watu kuntul” oleh masyarakat setempat. Salah satu bentuk batu karang yang menghadang ombak di pantai Nglambor bahkan cukup unik yaitu menyerupai seekor Kura-kura.

Meski dijaga oleh batu karang tetapi hempasan ombak sesekali masih terasa meskipun tidak tinggi. Oleh karena itu para wisatawan yang snorkeling di pantai Nglambor juga tetap diawasi oleh penjaga pantai yang berasal dari warga lokal.

Layaknya snorkeling di pantai lain. Perlengkapan snorkeling di pantai Nglambor juga bisa didapat dari jasa penyewaan yang ada di tempat ini. Dan bukan hanya snorkeling saja, tetapi wisatawan juga bisa menyewa kamera action cam untuk mengabadikan kenangan snorkeling di pantai Nglambor saat dikelilingi oleh ikan-ikan. Durasi waktu penyewaan lamanya 60 menit saja dengan harga yang harus dibayar 50 ribu rupiah.

Walau ikannya banyak tetapi keberadaan terumbu karang tidak dapat ditemui di kehidupan bawah laut pantai Nglambor. Dan walaupun ada bisa jadi akan rusak terinjak-injak oleh banyaknya wisatawan yang datang. Mengingat saat akhir pekan atau saat musim liburan jumlah pengunjung yang datang bisa membludak sementara lokasi snorkeling di pantai Nglambor pun tidak terlalu dalam.

Bahkan saat pengunjung sedang membludak, kondisi air laut di spot snorkeling pantai Nglambor bisa keruh karena memang wilayahnya tidak luas. Tetapi terlepas dari kondisi yang ada, snorkeling di pantai Nglambor menjadi satu hal yang wajib dicoba karena lokasinya yang berada di pantai selatan Yogyakarta yang terkenal dengan ombak besarnya.

Ada Apa Dengan Cinta? Ada Rangga dan Sate Klathak Pak Bari

Bagaimana nasib sebuah sepeda di tangan seorang penjual sate kambing yang ada di Wonokromo, Bantul? Jadi alat transportasi untuk berjualan? Salah. Yang benar jadi alat untuk memanggang sate. Kedua rodanya dipreteli dan diambilah satu demi satu jeruji roda yang menempel di velg untuk dijadikan tusukan daging sate.

Inilah salah satu yang membedakan antara sate Klathak dan sate biasa. Alih-alih menggunakan bambu, sate Klathak yang berbahan dasar daging kambing menggunakan tusukan berupa jeruji sepeda yang dilancipkan. Jeruji sepeda yang berasal dari besi menjadi media penghantar panas. Sehingga membuat daging kambing sate Klathak menjadi sangat lembut dan lunak saat dikunyah.

Sate Klathak sudah lama dikenal masyarakat Yogyakarta. Nama Klathak diambil dari suara yang timbul saat daging kambing yang sudah dibumbui dengan garam dan merica beradu dengan bara api. Penggunaan bumbu tersebut juga menjadi pembeda dengan sate kambing lainnya yang biasanya menggunakan kecap manis. Namun meski bumbunya sederhana, tidak mengurangi kelezatan sate Klathak ataupun meninggalkan bau prengus khas daging kambing. Karena daging yang digunakan berasal dari kambing muda.

Jalan Imogiri timur menjadi daerah dimana sate Klathak mudah ditemui. Nama sate Klathak semakin ramai terdengar saat salah satu scene sekuel film Ada Apa Dengan Cinta yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra mengangkat menu tradisional Yogyakarta ini. Tepatnya di warung sate Klathak pak Bari yang berada di sebelah pasar Jejeran desa Wonokromo, Bantul.

Awalnya memang sedikit sulit untuk menemukan lokasi sate Klathak pak Bari karena harus masuk jalan kecil yang berada persis di samping pasar Jejeran yang ada di jalan Imogiri Timur. Tetapi begitu masuk ke jalan kecil tersebut tak lagi sulit karena sudah ditandai dengan ramainya mobil dan motor para pembeli yang parkir. Padahal warung sate pak Klathak pak Bari ini lokasinya berjarak kurang lebih 10 km dari pusat kota Yogyakarta.
Menu utama yang disajikan oleh pak Bari adalah sate Klathak. Dalam satu porsi sate Klathak yang harganya 20 ribu rupiah terdapat 2 (dua) tusuk sate. Saat disajikan, sepiring kuah kari yang berwarna kekuningan menjadi teman santap sate Klathak. Alhasil gurihnya sate Klathak pun semakin terasa.
Tak hanya sate Klathak, pak Bari juga menyajikan menu lain yang bahan dasarnya juga daging kambing. Diantaranya sate bumbu, gule, nasi goreng, tongseng dan tengkleng dengan harga berkisar 15 ribu rupiah sampai dengan 23 ribu rupiah. Kecuali kamu memesan tongseng kepala kambing. Khusus menu yang satu itu dihargai 50 ribu rupiah.
Warung sate Klathak pak Bari buka selepas maghrib pukul 18.30 hingga pukul 2 dinihari. Tapi dengan statusnya yang semakin populer setelah ikut ambil bagian dalam adegan Ada Apa Dengan Cinta 2 maka pengunjung tak disarankan datang setelah pukul 9 malam.

Tuesday, 11 October 2016

Gudeg Permata, Untaian Kuliner Malam Yogyakarta

Karena banyak penjual Gudeg di kota Yogyakarta maka maklum saja jika kota ini dijuluki sebagai kota Gudeg. Tak sulit menemukan penjual Gudeg di Yogyakarta, siang ataupun malam hari. Kehadiran para penjual Gudeg di Yogyakarta sangat umum ditandai dengan antrian pembeli yang panjang.

Gudeg Permata adalah salah satu warung Gudeg yang buka di malam hari. Mulai dari jam 9 malam tepatnya dan tutup menjelang pukul 2 dinihari. Nama Permata diambil dari lokasi warungnya yang kebetulan berdekatan dengan bioskop Permata. Lokasi tepatnya berada di dekat traffic light pertigaan jalan Sultan Agung dan jalan Gajah Mada.

Berbeda nasib dengan bioskop Permata yang sudah tak beroperasi, gudeg Permata masih tetap laris sejak tahun 1951 hingga sekarang. Bahkan ketika si pengraciknya harus berganti generasi. Awal mulanya Gudeg Permata dikelola oleh bu Pujo namun saat ini tampuk pengracik harus berpindah ke tangan cucunya yaitu bu Sri Sunarti.
Menu gudeg yang disajikan disini adalah Gudeg basah. Tetapi baik itu Gudeg basah ataupun Gudeg kering, soal isi tak ada beda, yaitu sambal Krecek, Ayam, Telor, Tahu dan Tempe Bacem yang disiram dengan Areh. Namun tiap pembeli dapat memilih Gudeg dengan pilihan lauk yang berbeda-beda disesuaikan dengan selera masing-masing.

Gudeg Permata memiliki satu “senjata andalan” yang diletakan di bagian bawah tumpukan lauk yang membedakannya dengan Gudeg lainnya di kota Yogyakarta, yaitu daun pepaya. Daun pepaya yang biasa digunakan untuk merangsang nafsu makan karena citarasanya yang pahit dapat diubah rasanya di Gudeg Permata.

Tetapi meski rasa pahitnya hilang, khasiatnya tak lenyap. Terbukti nafsu makan setiap pengunjung yang datang terlihat sangat lahap. Apalagi ditambah dengan butiran cabe rawit utuh yang ada dalam sambal Kreceknya. Warnanya yang hijau mengkilat terlihat sangat menggoda. Dan rasa pedas yang timbul saat digigit berpadu sempurna dengan citarasa Gudeg Permata yang manis dan gurih.

Wisata 2 in 1 Pantai Jogan

Tak ada jalan mudah untuk menuju ke surga. Kalimat tersebut bisa diartikan dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti kiasan yang merujuk kepada “surga dunia”. Hal inilah yang tergambar dari wisata pantai di kabupaten Gunungkidul provinsi Yogyakarta.

Sebagian besar wilayah kabupaten Gunungkidul berupa perbukitan kapur. Saat musim kemarau melanda seringkali terjadi kekeringan berat. Kondisi jalanan yang ada pun tak terlalu lebar dengan kontur yang naik turun. Akses untuk menuju beberapa perkampungan masih berupa jalan tanah dan berbatu.

Tapi siap sangka kabupaten Gunungkidul menyimpan banyak keindahan wisata pantai dengan karakter yang berbeda-beda. Sebut saja pantai Siung yang menjadi surga bagi para atlet panjang tebit. Pantai Timang dengan wisata uji nyali kereta gondolanya. Pantai Nglambor dengan wisata snorkeling dan pantai Indrayanti dengan hamparan pasir putihnya yang luas.
Namun diantara pantai-pantai lainnya yang ada di kabupaten Gunungkidul ada satu pantai yang sangat unik, yaitu pantai Jogan. Dikatakan unik karena pantai Jogan memiliki air terjun yang jatuh langsung ke bibir pantainya.

Bibir pantai Jogan sangat sempit. Boleh dibilang seperti ceruk, dimana saat air laut pasang maka seluruh permukaannya akan tertutup. Air terjun di pantai Jogan yang tingginya sekitar 15 meteran sendiri hanya bisa dinikmati saat musim penghujan.
Saat musim penghujan, air yang jatuh dari tebing diatasnya seperti membentuk tirai yang menutupi goa kecil yang ada dibaliknya. Pengunjung dapat masuk kedalam goa kecil tersebut dan akan disambut dengan ribuan anak kepiting yang tinggal dibalik bebatuan yang ada.

Tetapi sebelum turun kedalam ceruk goa, pengunjung akan dikenakan biaya sebesar 2 ribu rupiah sebagai imbalan menggunakan tangga yang dibuat oleh warga setempat. Bebatuan di ceruk pantai Jogan yang terus menerus dibanjiri dengan air membuat permukaannya sangat licin, begitu juga dengan anak tangganya. Sehingga pengunjung dihimbau untuk berhati-hati.

Thursday, 6 October 2016

Inovasi, Benteng Pertahanan Sentra Kerajinan Kulit Desa Manding

Beberapa kali menghadapi tantangan usaha mulai dari serbuan produk berbahan plastik dari Jepang hingga bencana alam gempa tapi tak menyurutkan semangat wirausaha masyarakat desa Manding kabupaten Bantul. Berbagai kulit hewan coba dikembangkan sebagai bahan baku produksi oleh masyarakat desa Manding yang terkenal sebagai sentra kerajinan kulit.

Awal mula desa Manding bisa dikenal sebagai sentra kerajinan kulit di Yogyakarta berawal dari 3 (tiga) orang penduduk desa Manding yaitu Prapto Sudarmo, Ratno Suharjo dan Wardi Utomo yang bekerja di tempat pembuatan jok dan pelana kuda untuk Keraton Yogyakarta pada tahun 1947. Sebelum akhirnya keluar untuk merintis usaha sendiri, mereka bertiga mengabdi di tempat tersebut selama 10 tahun.

Selepas keluar dari tempat kerjanya, produk pertama yang mereka buat awalnya adalah ikat pinggang Warok berukuran besar. Namun tak lama kemudian mereka mencoba membuat produk-produk lain yang berbahan dasar kulit sapi seperti tas. Produk-produk yang mereka ciptakan awalnya dipasarkan di sekitar Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang ramai didatangi turis asing. Maka tak heran nama desa Manding lebih dikenal diluar negeri terlebih dahulu dibandingkan di dalam negeri.

Tetapi tak lama ketika produknya mulai dikenal, produk-produk impor dari Jepang yang berbahan dasar plastik mulai membanjiri pasar dalam negeri. Akibatnya produk kerajinan berbahan dasar kulit yang mereka buat pun terpukul. Hingga akhirnya pada tahun 1962, produk-produk kerajinan kulit desa Manding mulai dikenal kembali karena terbukti kualitasnya sangat bagus.
Pada tahun 1970an, antusiasme masyarakat desa Manding dalam mengolah kulit sapi untuk dibuat berbagai produk kerajinan tangan seperti tas, sepatu, ikat pinggang dan lain sebagainya semakin besar. Hal ini didasari bantuan dari Dinas Perindustrian pada tahun 1976 yang berupa pelatihan pengolahan kulit. Kemudian pada tahun tersebut juga didirikan Koperasi untuk para pengrajin dan juga Unit Pelayanan Teknik (UPT) yang didalamnya termasuk mesin-mesin produksi yang modern di jamannya.

Namun kemudian sentra kerajinan kulit desa Manding kembali diguncang cobaan. Kali ini berupa bencana gempang yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006. Tak sedikit rumah warga yang terdampak sehingga mengakibatkan industri rumahan tersebut kembali terpukul.
Tetapi tak lama berselang, tepatnya di akhir tahun 2006 datang kembali bantuan dari salah satu lembaga pemerintahan yang bergerak di bidang keuangan. Para pengrajin bukan hanya dibantu dalam meningkatkan keterampilan produksi saja. Tetapi juga dibantu dalam manajemen keuangan yang lebih profesional. Mereka juga dibekali dengan pelajaran bahasa asing untuk lebih mempermudah komunikasi dengan para pelanggan dari luar negeri.

Setelah 10 tahun berselang, produksi di sentra kerajinan kulit desa Manding telah kembali berjalan normal. Tetapi seiring perkembangan jaman dimana banyak produk asing yang masuk. Maka mau tak mau para pengrajin juga harus memutar otak untuk bertahan menghadapi persaingan. Saat ini, para pengrajin kulit di desa Manding tidak hanya mengandalkan bahan dasar kulit sapi saja.
Mereka berinovasi dengan menggunakan bahan kulit dari hewan lain yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan seperti kulit biawak, ular, kambing, ikan kakap, kerapu, patin, lele dan lain sebagainya. Bahkan bukan cuma kulit hewan saja yang diolah tetapi produk berbahan dasar enceng gondok dan pelepah pisang pun turut dicoba.

Produk-produk hasil kerajinan tangan desa Manding rata-rata dijual dengan harga mulai puluhan ribu hingga jutaan. Tergantung dari jenis, desain dan bahan kulit yang digunakan. Selain menjual produk jadi, para pengrajin di desa Manding juga siap untuk membuat produk yang sifatnya made to order.

Dari yang awalnya hanya 3 orang, kini sentra kerajinan kulit desa Manding telah memiliki 40an rumah produksi dengan jumlah pekerja yang berasal dari masyarakat setempat mencapai ratusan orang. Desa yang berjarak 15 km dari pusat kota Yogyakarta ke arah pantai Parangtritis ini patut dibanggakan sebagai salah satu desa mandiri dan layak menjadi contoh bagi desa-desa lain di seluruh pelosok Indonesia.