Labels

Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Wednesday, 19 October 2016

Nasi Goreng B2 Papilon yang Bikin Lidah Berdisko

Di Indonesia hidangan apa yang tak digoreng. Bahkan nasi pun juga digoreng. Tapi menu sederhana dan boleh dibilang murah meriah ini sangat kaya variasi dan banyak digemari. Ada yang ditambahkan dengan suwiran ayam, potongan daging sapi atau kambing hingga seafood. Dan buat kalangan tertentu yang tidak memiliki larangan menu makanan. Nasi goreng menjadi menu yang sangat nikmat ketika dicampur dengan potongan daging babi (B2).

Walau dikenal sebagai kota Gudeg tetapi Yogyakarta masih menyimpan banyak kuliner nusantara yang enak di lidah dan bersahabat dengan kantong. Tak terkecuali juga menu nasi goreng B2. Salah satu penjual nasi goreng B2 di Yogyakarta yang cukup dikenal yaitu Nasi goreng B2 Papilon.

Kata Papilon diambil dari meminjam nama diskotik yang dulu pernah buka disebelah warung Nasi goreng B2 yang berada di Jalan Mayor Suryotomo ini. Tapi kini diskotik tersebut sudah tak buka lagi. Tapi pengunjung yang berniat makan Nasi goreng B2 Papilon ini tak perlu kebingungan saat mencari. Cukup cari Hotel Melia Purosani atau Toko Progo yang legendaris di kota Yogyakarta maka kamu akan bisa langsung menemukan tempat ini. Ramainya pembeli dan motor yang parkir di pinggir jalan menjadi penanda keberadaan warung ini.
Warung nasi goreng B2 Papilon mulai buka mulai jam 19.00 dengan menggunakan gerobak dan pengunjung yang makan disediakan tempat di trotoar untuk ngemper beralas tikar. Sebelum disajikan ke pengunjung, nasi goreng dimasak dalam wajan yang besar. Sementara potongan daging B2 sudah dimasak dari rumah sebelumnya. Sehingga pengunjung sebenarnya bisa menikmati nasi goreng dengan atau tanpa potongan daging B2.

Selain menu nasi goreng B2, di tempat ini juga menjual B2 kecap dan Cap cay. Dua menu ini juga tak kalah nikmatnya. B2 kecap yang manis dan Cap cay Jawa yang segar. Harga untuk tiga menu ini semuanya dibanderol sangat murah. Mulai dari 9 ribu saja per porsi.

Tuesday, 18 October 2016

Pedas Segar Rujak Es Cream Pak Paino

Kebiasaan orang Yogyakarta kalau cuaca panas malah makan rujak pedas. Tapi tak sedikit juga yang suka makan es cream. Mungkin dari kebiasaan itulah timbul perpaduan menu baru yang ternyata tak kalah digemari yaitu Rujak es cream.

Salah satu daerah di Yogyakarta yang banyak menjajakan Rujak es cream adalah Pura Pakualaman dengan pak Paino yang telah berjualan sejak tahun 1990 sebagai salah satu pelopornya. Berbekal gerobak dorong dan sebuah payung tenda besar, pak Paino mulai berjualan jam 9 pagi dibawah sebuah pohon besar yang terletak di sudut jalan Harjowinatan. Saat cuaca panas, tak jarang Rujak es cream buatannya sudah habis terjual sebelum sore hari.
Rujak yang ia sajikan tidak berbeda dengan rujak pada umumnya yang isinya serutan buah yang terdiri dari mangga, kedondong, pepaya, nanas, bengkoang, mentimun yang kemudian disiram dengan bumbu ulekan gula jawa dan asam yang diberi sedikit air.

Bagi pengunjung yang menyukai rasa pedas ataupun tidak pedas tak perlu khawatir karena cabainya dihidangkan terpisah. Sebagai toping, seperti namanya, ditambahkanlah es cream puter tanpa pemanis buatan hasil tangan pak Paino sendiri. Kuliner tradisional Yogyakarta yang dihidangkan diatas piring kecil tersebut dihargai 5 ribu rupiah saja per porsi.

Tak hanya Rujak es cream, buat pengunjung yang menyukai rujak potong atau yang di Yogyakarta disebut dengan Lutis juga bisa dinikmati disini. Harganya pun tak beda jauh untuk satu porsinya, hanya 6 ribu rupiah saja.

Monday, 17 October 2016

Es Teler Rumah Makan Murni 83 Segarnya Lintas Era

Peninggalan kuno di Yogyakarta tak hanya Candi, Keraton, komplek Taman sari dan bangunan bersejarah lainnya. Tak sedikit kuliner yang ada di kota Gudeg ini juga memiliki usia yang tak lagi muda. Tetapi usia yang tak lagi muda bagi sebuah kuliner bukan berarti menjelang “kematian” alias ditinggalkan penggemarnya.

Justru jenis kuliner tersebut yang kemudian dicari oleh para penggemar makanan karena dianggap memiliki citarasa yang melegenda. Seperti es teler di Rumah Makan Murni 83 yang berada di Jalan Tukangan no. 45 ini. Dibuka pertama kali pada tahun 1978 sampai dengan saat ini, yang berubah dari es Teler di Rumah makan Murni 83 hanya nomor rumah saja tetapi tidak dengan citarasanya.
Pemilik Rumah makan Murni 83 tetap mempertahankan angka 83 sebagai bagian dari nama rumah makannya alih-alih menggunakan 45 sebagai nomor baru lokasi usahanya.

Es teler menjadi menu favorit di Rumah makan Murni 83 dari beberapa jenis es lainnya. Kesatuan rasa dari campuran kelapa muda, agar-agar, nangka dan tape ketan yang disiram dengan es serut, susu kental manis dan sirup benar-benar menciptakan kesegaran otentik khas es Teler ala Rumah makan Murni 83.

Untuk penggemar durian, disediakan juga es Teler durian sebagai variasi lain namun tanpa mengurangi citarasa khasnya. Keduanya dihargai dengan nominal yang sama yaitu 20 ribu rupiah.
Meski dikenal dengan es Teler-nya tetapi bukan berarti rumah makan Murni 83 tidak memiliki menu makanan yang memikat. Berbagai menu makanan khas Yogyakarta dan kota-kota lain juga tersedia. Sebut saja salah satunya Bestik Jawa. Citarasanya sangat mirip dengan Selat Solo. Tetapi Bestik Jawa di Rumah makan Murni 83 disajikan dengan kuah asam manis. Dan harga seporsinya cuma 17 ribu saja.

Perpaduan antara es Teler yang manis segar dan Bestik Jawa dengan kuah yang asam ketika disatukan akan menciptakan sensasi rasa yang benar-benar enak. Dan yang paling penting juga tidak bikin kantong bolong!

Wednesday, 12 October 2016

Ada Apa Dengan Cinta? Ada Rangga dan Sate Klathak Pak Bari

Bagaimana nasib sebuah sepeda di tangan seorang penjual sate kambing yang ada di Wonokromo, Bantul? Jadi alat transportasi untuk berjualan? Salah. Yang benar jadi alat untuk memanggang sate. Kedua rodanya dipreteli dan diambilah satu demi satu jeruji roda yang menempel di velg untuk dijadikan tusukan daging sate.

Inilah salah satu yang membedakan antara sate Klathak dan sate biasa. Alih-alih menggunakan bambu, sate Klathak yang berbahan dasar daging kambing menggunakan tusukan berupa jeruji sepeda yang dilancipkan. Jeruji sepeda yang berasal dari besi menjadi media penghantar panas. Sehingga membuat daging kambing sate Klathak menjadi sangat lembut dan lunak saat dikunyah.

Sate Klathak sudah lama dikenal masyarakat Yogyakarta. Nama Klathak diambil dari suara yang timbul saat daging kambing yang sudah dibumbui dengan garam dan merica beradu dengan bara api. Penggunaan bumbu tersebut juga menjadi pembeda dengan sate kambing lainnya yang biasanya menggunakan kecap manis. Namun meski bumbunya sederhana, tidak mengurangi kelezatan sate Klathak ataupun meninggalkan bau prengus khas daging kambing. Karena daging yang digunakan berasal dari kambing muda.

Jalan Imogiri timur menjadi daerah dimana sate Klathak mudah ditemui. Nama sate Klathak semakin ramai terdengar saat salah satu scene sekuel film Ada Apa Dengan Cinta yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra mengangkat menu tradisional Yogyakarta ini. Tepatnya di warung sate Klathak pak Bari yang berada di sebelah pasar Jejeran desa Wonokromo, Bantul.

Awalnya memang sedikit sulit untuk menemukan lokasi sate Klathak pak Bari karena harus masuk jalan kecil yang berada persis di samping pasar Jejeran yang ada di jalan Imogiri Timur. Tetapi begitu masuk ke jalan kecil tersebut tak lagi sulit karena sudah ditandai dengan ramainya mobil dan motor para pembeli yang parkir. Padahal warung sate pak Klathak pak Bari ini lokasinya berjarak kurang lebih 10 km dari pusat kota Yogyakarta.
Menu utama yang disajikan oleh pak Bari adalah sate Klathak. Dalam satu porsi sate Klathak yang harganya 20 ribu rupiah terdapat 2 (dua) tusuk sate. Saat disajikan, sepiring kuah kari yang berwarna kekuningan menjadi teman santap sate Klathak. Alhasil gurihnya sate Klathak pun semakin terasa.
Tak hanya sate Klathak, pak Bari juga menyajikan menu lain yang bahan dasarnya juga daging kambing. Diantaranya sate bumbu, gule, nasi goreng, tongseng dan tengkleng dengan harga berkisar 15 ribu rupiah sampai dengan 23 ribu rupiah. Kecuali kamu memesan tongseng kepala kambing. Khusus menu yang satu itu dihargai 50 ribu rupiah.
Warung sate Klathak pak Bari buka selepas maghrib pukul 18.30 hingga pukul 2 dinihari. Tapi dengan statusnya yang semakin populer setelah ikut ambil bagian dalam adegan Ada Apa Dengan Cinta 2 maka pengunjung tak disarankan datang setelah pukul 9 malam.

Tuesday, 11 October 2016

Gudeg Permata, Untaian Kuliner Malam Yogyakarta

Karena banyak penjual Gudeg di kota Yogyakarta maka maklum saja jika kota ini dijuluki sebagai kota Gudeg. Tak sulit menemukan penjual Gudeg di Yogyakarta, siang ataupun malam hari. Kehadiran para penjual Gudeg di Yogyakarta sangat umum ditandai dengan antrian pembeli yang panjang.

Gudeg Permata adalah salah satu warung Gudeg yang buka di malam hari. Mulai dari jam 9 malam tepatnya dan tutup menjelang pukul 2 dinihari. Nama Permata diambil dari lokasi warungnya yang kebetulan berdekatan dengan bioskop Permata. Lokasi tepatnya berada di dekat traffic light pertigaan jalan Sultan Agung dan jalan Gajah Mada.

Berbeda nasib dengan bioskop Permata yang sudah tak beroperasi, gudeg Permata masih tetap laris sejak tahun 1951 hingga sekarang. Bahkan ketika si pengraciknya harus berganti generasi. Awal mulanya Gudeg Permata dikelola oleh bu Pujo namun saat ini tampuk pengracik harus berpindah ke tangan cucunya yaitu bu Sri Sunarti.
Menu gudeg yang disajikan disini adalah Gudeg basah. Tetapi baik itu Gudeg basah ataupun Gudeg kering, soal isi tak ada beda, yaitu sambal Krecek, Ayam, Telor, Tahu dan Tempe Bacem yang disiram dengan Areh. Namun tiap pembeli dapat memilih Gudeg dengan pilihan lauk yang berbeda-beda disesuaikan dengan selera masing-masing.

Gudeg Permata memiliki satu “senjata andalan” yang diletakan di bagian bawah tumpukan lauk yang membedakannya dengan Gudeg lainnya di kota Yogyakarta, yaitu daun pepaya. Daun pepaya yang biasa digunakan untuk merangsang nafsu makan karena citarasanya yang pahit dapat diubah rasanya di Gudeg Permata.

Tetapi meski rasa pahitnya hilang, khasiatnya tak lenyap. Terbukti nafsu makan setiap pengunjung yang datang terlihat sangat lahap. Apalagi ditambah dengan butiran cabe rawit utuh yang ada dalam sambal Kreceknya. Warnanya yang hijau mengkilat terlihat sangat menggoda. Dan rasa pedas yang timbul saat digigit berpadu sempurna dengan citarasa Gudeg Permata yang manis dan gurih.

Tuesday, 4 October 2016

Bakmi Kadin, Kesabaran Berbuah Kelezatan

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kecekatan para tukang masak di bakmi Kadin yang sudah menyajikan menu Bakmi Jawa yang enak, mungkin hanya inilah tulisan tentang makanan dalam blog ini yang tidak menyertakan menu sajiannya sebagai foto pertama. Kenapa bisa begitu ya?

Ada 3 (tiga) syarat tidak resmi yang harus dimiliki oleh mereka yang mau makan di Bakmi Kadin yang ada di kota Yogyakarta ini. Pertama, mereka yang tidak memiliki tekanan darah tinggi. Kedua, harus bisa meresapi pepatah Jawa yang berbunyi “alon-alon asal kelakon”. Dan yang ketiga, jangan datang disaat terburu-buru.
Alasannya sederhana saja. Untuk dapat menikmati sepiring mie goreng atau mie godog Bakmi Kadin diperlukan waktu minimal 1 hingga 2 jam! Di malam minggu atau di waktu libur panjang, waktu tunggu demi sepiring bakmi godog atau bakmi goreng bisa lebih lama lagi. Tak jarang minuman yang dipesan bisa habis duluan sebelum makanan datang. Atau mungkin pengunjung bisa saja tertidur karena lantunan lagu-lagu tradisional Jawa dari grup orkes keroncong yang menghibur pengunjung di depan warung terdengar sayup-sayup.
Karena waktu menunggu yang lama maka tak jarang akan melihat pengunjung yang sampai bawa kartu remi demi bisa menikmati nikmatnya Bakmi Kadin yang berlokasi di jalan Bintaran kulon nomor 6, Wirogunan ini. Lamanya waktu tunggu ini dikarenakan setiap pesanan akan dimasak satu demi satu walau jenisnya sama. Padahal anglo yang tersedia sebagai kompor untuk memasak jumlahnya banyak.
Tapi tak perlu khawatir. Masih ada cara lain untuk bisa menikmati sepiring bakmi Jawa yang legendaris ini, yaitu dengan datang di siang hari. Dan sebisa mungkin hindari datang di malam akhir pekan. Bagaimanapun caranya, bakmi Kadin yang menu seporsinya mulai dari 17 ribu rupiah ini wajib untuk dicoba. Karena Yogyakarta bukan cuma Gudeg saja.

Ramainya penikmat Bakmi Kadin juga disebabkan karena warung spesialis menu favorit orang Yogyakarta ini adalah salah satu yang legendaris di kota Gudeg ini. Bakmi Kadin sudah berjualan 2 (dua) tahun sejak Indonesia resmi merdeka, yaitu pada tahun 1947.

Awalnya orang-orang yang makan di bakmi Kadin akan mengira bahwa nama yang tersemat adalah karena warung ini bersebelahan dengan kantor Kadin (Kamar dagang dan industri. Tapi sesampainya di warung bakmi Kadin, pengunjung baru akan tahu bahwa nama Kadin berasal dari singkatan nama pendirinya, mbah H. KArto kasiDin.

Monday, 26 September 2016

Kuro Tamago, Telur Mistis dari Lembah Kematian Owakudani

Telur dikatakan mengandung protein tinggi yang dapat merangsang pertumbuhan dan meningkatkan kecerdasan otak. Tapi telur hitam atau Kuro Tamago yang berasal dari Owakudani di Hakone, Jepang ini dipercaya punya khasiat khusus. Untuk satu telur yang disantap dipercaya dapat memperpanjang usia hingga 7 tahun. Eiitsss jangan buru-buru rakus ya mau makan 5 butir! Karena hanya dianjurkan makan 2 ½ butir saja per orang. Lebih dari itu justru menjadi badluck.

Kuro tamago secara ukuran fisik terlihat sama seperti telur ayam pada umumnya. Demikian juga bagian dalam Kuro tamago, bagian tengah kuning sementara diluarnya putih. Yang membedakannya hanyalah cangkangnya yang berwarna hitam legam. Tetapi bukan berarti Kuro tamago adalah telur yang keluar dari perut ayam Cemani. Ayam khas Indonesia yang seluruh tubuhnya juga berwarna hitam itu.
Kuro tamago yang dijual dalam dalam satu kemasan berisi 5 (lima) butir telur dengan harga 500 Yen tersebut sebenarnya adalah telur rebus. Dalam keadaan mentah atau sebelum diolah warna cangkangnya tak berbeda dengan telur ayam lainnya. Proses pengolahannya yang tak biasa menjadikan cangkang Kuro tamago berubah warnanya.Yakni dengan cara direndam di dalam sebuah kawah gunung yang ada di Owakudani. Reaksi kimia dari berbagai unsur mineral seperti belerang dan besi menjadikan cangkang Kuro tamago berwarna hitam legam setelah direbus.

Owakudani yang terletak di kota Hakone memang terkenal akan pemandangan alam pegunungan. Meskipun gunungnya secara fisik sudah tidak terlihat dan hanya berupa kawah-kawah hasil letusan gunung Hakone yang terjadi ribuan tahun lalu. Walau demikian, status dari Owakudani sendiri masih ditetapkan aktif. Tak jarang kawasan ini ditutup dikarenakan adanya gas beracun yang keluar dari perut bumi. Maka Owakudani sering juga disebut sebagai The Death Valley atau Lembah Kematian.
Mitos mengenai Kuro tamago jamak terjadi bukan hanya di Jepang. Tetapi di negara-negara lain pun juga ada. Hanya saja bentuknya bisa berbeda-beda. Keajaiban khasiat Kuro tamago sendiri konon kabarnya sudah berkembang sejak Periode Heian. Mereka yang hidup pada periode tersebut percaya bahwa di Owakudani tepatnya di kawah tersebut bersemayam Dewa Enmei Jizo Bosatsu. Dewa yang menganugerahi usia panjang. Sedangkan penambahan usia hingga 7 (tujuh) tahun untuk setiap satu butir Kuro tamago yang disantap berasal dari 7 (tujuh) jumlah Dewa. Sehingga dari 2 (dua) keyakinan tersebut timbulah mitos Kuro tamago. Dan dengan demikian Kuro tamago pun benar-benar hanya dijual di Owakudani.
Untuk mencapai Owakudani bisa dengan 2 (dua) cara. Mau dengan cara capek atau memacu adrenalin. Yang pertama, cara sulit dan capek yaitu hiking. Sedangkan yang kedua, cara mudah tetapi menegangkan yaitu naik gondola (cable car). Supaya panjang umur memang tidak ada cara yang mudah dan tidak enak rasanya.
Karena direbus dalam kawah membuat Kuro tamago memiliki sedikit bau belerang. Tapi jujur saja tidak mengurangi nikmatnya. Mungkin karena udara Owakudani yang dingin sementara Kuro tamago disajikan hangat-hangat. Benar-benar fresh from the caldera!

Saturday, 10 September 2016

Selat Solo Yang Hanya Ada Dalam Peta Kuliner

Sudah tutup saja buku peta itu. Karena Solo letaknya berada di sentral Jawa tengah. Otomatis ngga akan punya laut dan selat. Tapi coba buka “peta kuliner tradisional Solo”. Tidak akan butuh waktu lama untuk menemukan yang namanya Selat Solo.

Selat Solo. Makanan yang satu ini memang aneh namanya. Kalau mau dibilang salad tapi ada kuahnya. Mau dibilang sup atau semur? Ngga pas juga. Kabarnya nama Selat sendiri tercetus dari bahasa Belanda Slaatje yang artinya seporsi kecil dari Salad. Lidah Jawa yang sulit melafalkan Slaatje menyebabkan penulisan dan penyebutannya pun berubah. Demikian pula dengan bentuk hidangannya yang juga mengalami modifikasi untuk disesuaikan dengan selera orang Solo.

Selat Solo mba Lies merupakan tempat makan dengan nama yang mumpuni untuk hidangan tradisional kota asal Presiden Jokowi ini. Masakan segar berkuah yang disajikan dalam piring ini ceper ini isinya buncis, wortel, kentang, telor pindang, daging sapi, acar dan mustard buatan rumah ditaruh diatas selembar daun selada. Untuk pilihan daging sapinya ada dua macam penyajian. Mau yang disuwir atau yang galantin (daging sapi digiling dan dibentuk seperti rolade).

Berbagai menu tradisional lainnya seperti Timlo, Sup galantin/Sup manten, Tahu acar & Stup makaroni boleh dijadikan sebagai menu ronde kedua di Selat Solo mba Lies ini. Karena kalau cuma makan Selat Solo masih kurang kenyang! Sebagai pelepas dahaga, es Tape ketan yang juga minuman tradisional Solo bisa jadi pilihan.

Untuk setiap porsi Selat Solo mba Lies bisa ditebus dengan uang 15 ribu rupiah saja per porsinya. Rumah makan yang “sumpek” oleh hiasan keramik pemiliknya ini buka mulai jam 08.30 – 17.30 setiap harinya.

Lokasi rumah makan Selat Solo mba Lies ini berada di Kampung Serengan Gang II/42, Solo. Gampang-gampang susah untuk mencari tempatnya karena memang nyempil di gang. Tapi ngga seperti benua Atlantis yang imajiner itu. Enaknya Selat Solo ini beneran nyata, jadi ayo tetap semangat walau susah-susah dikit.

Monday, 8 August 2016

Soto Gading Solo Favoritnya Pejabat


Siapa bilang tempat makan favorit pejabat harus ekslusif dan dengan harga mencekik. Tak percaya? Datang saja ke warung makan Soto Gading di kota Solo. Tempatnya cukup sederhana, panas tak berpendingin ruangan dan dengan deretan kursi meja yang sama dengan pengunjung lainnya.

Soto memang bukan masakan khas Solo seperti Timlo. Malah boleh dibilang masakan nusantara karena hampir semua daerah di Indonesia punya menu Soto. Tapi di kota yang julukannya Spirit of Java ini, Soto seperti menjadi hidangan wajib untuk sarapan. Tak heran jika hampir di setiap sudut kota mudah ditemui penjual Soto.

Meski banyak penjual Soto tapi hanya beberapa yang mempunyai sejarah panjang hingga akhirnya menjadi favorit warga Solo dan menjadi ikon kuliner kota tersebut. Adalah Soto Gading 1 yang beralamat di jalan Brigjen Sudiarto no 75, Gading warung makan Soto yang telah sangat dikenal dan digemari warga Solo dan pecinta kuliner dari berbagai kalangan.

Berbicara harga yang murah, dibawah 10 ribu rupiah untuk semangkuk Soto sudah jelas bukan alasan para pejabat rela sarapan berpanas-panas ria disini. Tetapi komposisi pas dari kuah soto yang bening gurih yang membasahi nasi dengan suwiran ayam, soun, keripik kentang daun seledri dan bawang goreng lah yang pas untuk jadi alasan.

Belum lagi aneka camilan seperti keripik tempe, sosis Solo, tahu, sate usus, empal, perkedel dan lain sebagainya yang tersaji di meja makan semakin memanjakan lidah.

Porsinya yang sedang memang menjadikan Soto Gading cocok dijadikan sebagai menu sarapan. Tetapi tak mustahil jika Soto Gading disantap sebagai menu makan siang. Justru porsinya yang cukup tidak akan membuat mata ngantuk karena kekenyangan. Monggo disesuaikan saja dengan jam operasional Soto Gading 1 yang buka mulai pukul 05.30 hinggap 15.30 setiap harinya.

Bukan Bakso Bukan Soto Ini Timlo

Hawa kota Solo yang panas menyengat memang bukan rahasia lagi. Tapi jangan anti dengan masakan yang berkuah panas kalau liburan di kota yang julukannya Spirit of Java ini. Rugi!

Memang susah mendeskripsikan rasa masakan ini. Dilihat dari penampakannya yang diguyur dengan kuah kaldu ayam bening terlihat seperti bakso atau soto. Tak salah memang. Hanya saja dengan isian ati ampela, suwiran ayam ,sosis Solo dan telur bebek pindang membuat gurihnya kuah kaldu ayam menjadi tidak terlalu dominan namun justru sensasi segar panaslah yang tercipta.
Tetapi supaya lebih afdol silahkan datang saja langsung datang ke warung makan Timlo Sastro atau yang lebih dikenal warga solo dengan Timlo Sastro (m)Balong. Lokasinya tak jauh dari Pasar Gede, persisnya di Jalan Pasar Gede Timur no 1 Balong.

Harga sebesar 18 ribu rupiah menjadi harga yang pantas bagi menu khas kota Solo yang memang lahir dari warung makan ini. Segelas es Beras kencur dan alunan musik yang mengalunkan lagu-lagu lokal menjadi teman sempurna untuk mendinginkan lidah akibat sengatan hawa panas dan kuah Timlo yang diguyur sambal kecap.

Jika tak segera, maka bersiaplah untuk berdiri menunggu meja saat jam makan siang tiba di warung makan Timlo Sastro yang buka dari jam 06.00 – 15.30 ini.

Thursday, 31 October 2013

Es Dawet Telasih Bu Dermi Segarnya Mengalir Sampai Jauh


Permisi pak Gesang, saya meminjam sepenggal kalimat dalam lirik lagu Bengawan solo. Meski hanya menempati sudut sempit di dalam pasar Gede tetapi segarnya es Dawet Telasih bu Dermi sudah terdengar mengalir ke telinga pecinta kuliner di Indonesia.

Tak jarang pembeli yang datang rela berdiri demi menikmati semangkuk kecil es Dawet Telasih bu Dermi sambil sesekali bergeser berpindah posisi karena harus berbagi jalan dengan pembeli sayur mayur di pasar Gede.

Es dawet Telasih yang dijual oleh bu Dermi ini memiliki perbedaan dengan es Dawet yang umumnya kita kenal. Yang pertama terlihat dari tempat penyajian pun sudah berbeda yaitu tidak menggunakan gelas melainkan mangkuk.

Sebagai bahan isian, sesuai namanya menggunakan telasih yang dikombinasi dengan jenang sumsum; tape ketan hitam dan hijau; lalu cendol. Santan encer dengan campuran nangka dan gula cair lalu digunakan untuk merendam semua bahan tersebut dalam mangkuk kecil.

Segarnya es dawet Telasih bu Dermi cukup ditebus dengan harga 8 ribu per mangkuk. Pecinta kuliner bisa datang setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 15.00 untuk menikmati sajian khas kota Solo ini.

Sunday, 27 October 2013

Sate Buntel Mbok Galak Nikmatnya Ampun

Jangan buru-buru kehilangan selera kalau baru baca nama penjualnya atau nama makanannya. Yang dimaksud dengan sate buntel disini bukannya sate ikan buntel itu. Yang jual pun juga tidak punya sifat yang sama dengan namanya.

Di kota Solo, hidangan sate kambing memiliki variasi lain dalam cara penyajian. Alih-alih langsung ditusuk dengan lidi bambu, daging kambing digiling hingga lembut terlebih dahulu. Kemudian dibungkus dengan kulit lemak tipis sebelum dibakar.

Untuk satu porsi sate buntel hanya terdiri dari 2 (dua) tusuk saja. Karena nominalnya yang kecil seringkali pengunjung yang baru pertama kali makan mengernyitkan dahi. Bukannya sate biasanya 10 tusuk per porsi?

Meski hanya 2 tusuk, tetapi satu buntel sate sebenarnya berisi 5 tusuk sate yang dicincang. Jadi 2 tusuk sebenarnya sama dengan 10 tusuk sate biasa. Dan pas setelah selesai makan memang baru benar-benar berasa kenyangnya sama dengan makan satu porsi sate yang isinya 10 tusuk.

Karena terbatasnya kulit lemak yang tersedia setiap hari maka stok sate buntel tiap harinya juga berbeda-beda. Apalagi penggemar olahan daging kambing juga tak sedikit meski kadar kolesterol yang ada didalamnya cukup tinggi.
Maka pengunjung yang tertarik mencoba sebaiknya mampir sebelum pukul 12 siang. Tetapi jika tak kebagian, hidangan sate kambing biasa; gulai; tongseng dan tengkleng yang tersedia juga tak kalah nikmatnya.

Sampai saat ini warung sate buntel mbok Galak belum membuka cabang padahal kabarnya juga digemari oleh pemimpin negara kita. Sebaiknya hanya makan sate buntel mbok Galak yang lokasinya ada di Sumber. Karena siapa tahu kalau makan sate buntel di lokasi lain yang namanya mbok Galak juga, ntar jangan-jangan penjualnya galak beneran!